Cari Blog Ini
Rabu, 31 Maret 2010
SYEKH ABDUL QODIR AL-JAELANI
“Ingatlah, sesungguh-nya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Terlepas dari pro dan kontra mengenai sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jilani , yang jelas ketokohan beliau dalam bidang Thariqah dan Tasawuf sangat masyhur, khususnya di negara kita. Hal itu bisa dibuktikan dengan menyebarnya thariqah beliau di seantero nusantara dan negera-negara lain di belahan bumi ini. Di Indonesia saja, manaqib beliau sangat terkenal dan dibaca di mana-mana oleh semua lapisan masyarakat, baik kalangan pejabat sipil, militer maupun rakyat biasa. Itu semua dapat kita jumpai ketika berlangsung acara-acara majlis dzikir, haul maupun majlis-majlis yang lain. Salah satunya yang terbesar adalah haul yang di selenggarakan oleh Jama’ah Al Khidmah di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya, yang tidak kurang dihadiri oleh tiga ratus ribu orang. Semua itu pada hakekatnya adalah bukti yang menunjukkan kedudukan beliau yang amat tinggi di sisi Allah swt, sehingga Allah swt memuliakan dan mengharumkan nama beliau. Walaupun beliau sudah tidak ada semenjak 867 tahun yang lalu.
Ketokohan beliau sangat masyhur dikalangan ahli thariqah. Di luar kalangan ahli thariqahpun nama beliau sangat harum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang terkenal kritis terhadap para ahli tasawuf dalam beberapa fatwanya menyanjung dan memuji Syaikh Abdul Qadir al-Jilani . Beliau menyebutkan, bahwa karomah-karomah yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Qadir dinukil secara mutawatir[1]. Beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sangat memuji Syaikh Abdul Qadir dengan pujian yang tidak pernah diungkap orang lain atau diungkapkan kepada orang lain, kecuali hanya sedikit. Beliau selalu menyertakan kata-kata qadda-sallahu sirrahu (mudah-mudahan Allah swt mensucikan ruhaninya) setiap kali menyebut nama Syaikh Abdul Qadir . Bahkan, beliau rahimahullah menulis sebuah artikel dalam fatwa-fatwanya yang mencakup terhadap penjelasan dan pengarahan terhadap sebagian kalimat dan makna yang terdapat dalam kitab Futuh al-Ghaib karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani .[2]
Nama beliau adalah Abu Sholih Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Yahya al-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahdi bin Hasan al-Mutsana bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Beliau dilahirkan di Jailan. Yaitu negeri terpencil di belakang Thabrastan, yang di kenal dengan Kail atau Kailan. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat ketika menisbatkan nama beliau kepada tanah kelahirannya. Sebagian ada yang menisbatkan wilayah Jilan ini menjadi Jili. Sebagian menisbatkannya menjadi Jilani (dan ini yang kami pakai karena penisbatan Jilani lebih masyhur dan terkenal dikalangan rakyat Indonesia).
Sebagian yang lain lagi menisbatkannya ke daerah Kailan menjadi Kailani. Sebagian orang yang menisbatkan beliau kepada Jilani mempunyai alasan karena beliau dilahirkan disana. Akan tetapi sebagian yang lain mengatakan bahwa penisbatannya kepada Jilani adalah karena Allah telah memberikan kepada Syaikh Abdul Qadir kedudukan yang sangat tinggi disisi-Nya sejak beliau berada di dalam kandungan ibunya (Innallaha tajalla ‘alaihi wahuwa fi bathni ummihi).
Beliau pernah ditanya kapan engkau mulai menjadi waliyullah? Beliau menjawab: “Sejak kanak-kanak, karena aku mendengar suara dari langit: ‘Ya Waliyallah lakukanlah seperti ini dan tinggalkanlah perkara ini.’.” Bahkan termasuk karomah beliau adalah sewaktu bayi ketika bulan Ramadlan beliau tidak pernah menetek kepada ibunya. Hal itu menjadi pedoman bagi penduduk Bagdad untuk menentukan awal bulan Rama-dlan[3] dan juga hari raya. Suatu hari mereka bertanya kepada ibunda Syaikh Abdul Qadir , apakah beliau siang itu menetek atau tidak. Ketika beliau tidak menetek maka bulan Ramadlan telah masuk dan apabila di siang hari -pada bulan Ramadlan- beliau menetek pada ibunya maka itu bertanda bahwa hari raya telah tiba.[4]
Beliau dilahirkan pada tahun 471 Hijriyah sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Imam al-Dzahabi dalam Siyar A’laam al-Nubala. Riwayat lain mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 470 Hijriyah sebagaimana keterangan Imam al-Sya’roni dalam Ath Thabaqaat Al Kubro dan juga keterangan dari beliau sendiri tentang kelahirannya. Beliau berkata: “Saya tidak mengetahui secara pasti, tetapi saya datang ke bagdad pada tahun ketika al-Tamimi masih hidup dan usia saya pada saat itu delapan belas tahun.”[5]. Al-Tamimi adalah ayah Muhammad Izzatullah bin Abdul Wahhab bin Abdul Azis bin al-Harits bin Asad yang meninggal pada tahun 488 Hijriyah. Beliau wafat pada malam Sabtu ba’da maghrib tanggal delapan Rabiul Akhir tahun 561 Hijriyah dan jenazahnya dimakam-kan dimadrasahnya setelah disaksikan oleh manusia yang tak terhitung jumlahnya.[6]
Beliau adalah ulama yang sangat harum namanya, berahlak mulia, selalu berada di antara orang-orang kecil dan para hamba sahaya untuk mengayomi mereka. Beliau senantiasa bergaul dengan orang-orang miskin sembari membantu membersihkan pakaian mereka. Beliau sama sekali tidak pernah mendekati para pembesar atau para pembantu negara. Juga sama sekali tidak pernah mendekati rumah seorang menteri atau raja.
Oleh karena itu tidak heran jika para ulama banyak memberikan gelar padanya. Diantara gelar yang diberikan kepada Syaikh Abdul Qadir adalah gelar Imam yang diberikan oleh Imam al-Sam’aani , seraya berkata: “Beliau adalah Imam pengikut madzhab Hambali dan guru mereka pada masanya.”[7] Imam al-Dzahabi juga memberinya gelar sebagai Syaikhul Islam ketika menulis biografinya dalan kitabnya Siyar A’lam al-Nubala.[8] Disamping gelar-gelar diatas masih banyak gelar-gelar yang diberikan oleh para ulama baik dari kalangan Hanabilah maupun Syafi’iyah yang tidak akan dipaparkan dalam tulisan ini.
Pemikiran Tasawuf Syaikh Abdul Qadir Al Jilani .
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitabnya, al-Ghunyah li Tholib al-Thoriq al-Haq mendefinisikan tasawuf sebagai pembenaran (percaya) kepada yang Haq (Allah ) dan berperilaku baik terhadap sesama hamba Allah swt. Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa aspek tasawuf bersandar pada dua hal:
1) Hubungan seorang hamba kepada Sang Kholiq dengan cara bersungguh-sungguh dalam me-ntaati segala perintah-Nya dan bersungguh-sungguh dalam usaha menjauhi larangan-Nya.
2) Hubungan seorang hamba dengan hamba yang lain dengan cara berperilaku yang baik dan berahlak yang terpuji. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bergaullah dengan manusia dengan perilaku yang terpuji.”[9]. Selain definisi di atas, beliau dalam kitabnya yang lain menjelaskan bahwa tasawuf adalah: bertakwa kepada Allah swt, mentaati-Nya, menerapkan syariat-Nya secara dhohir, menye-lamatkan hati, membaguskan wajah, melakukan dakwah, mence-gah penganiayaan, sabar menerima penganiayaan dan kefaqiran, menjaga kehor-matan para guru, bersikap baik dengan saudara, menasehati orang kecil dan besar, meniggalkan permu-suhan, bersikap lembut, melaksa-nakan fadlilah, menghindari menyimpan harta benda, menghindari persahabatan dengan orang yang tidak setingkat dan tolong-menolong dalam urusan agama dan dunia.”[10].
Definisi ini mencakup beberapa hal, yaitu: 1) Takwa kepada Allah swt, dengan cara menaatinya dengan menerapakan syariat-Nya dalam kehidupan sehari-hari. 2) Melatih, mendidik dan menyucikan jiwa untuk senantiasa berakhlak dengan sifat-sifat yang terpuji. 3) Menghargai orang lain dalam pergaulan sehari-hari dengan cara memberikan hak-haknya yang sesuai dan proporsional. Selain aspek-aspek di atas beliau juga menjelaskan bahwa tasawuf dibangun atas delapan dasar, yaitu: dermawan, ridha, sabar, isyarah, mengasingkan diri, tasawuf, bepergian, dan kefakiran.[11]
Kemudian Syaikh Abdul Qadir mendefinisikan Muta-shawif sebagai orang yang membebani dirinya untuk menjadi seorang sufi dan dia berupaya dengan sungguh-sungguh untuk bisa menjadi seorang sufi. Dia berupaya dan menempuh jalan satu kaum dan mengambilnya sebagai jalan suluk (menuju ke haribaan Allah swt). Sedangkan Sufi sendiri menurut Syaikh Abdul Qadir adalah orang yang telah merealisasikan makna-makna tasawuf, sehingga dia berhak untuk disebut sebagai seorang sufi. Dalam Ghunyah-nya beliau berkata: “Sufi diambil dari kata al mushafaat, yaitu seorang hamba yang telah disucikan oleh Allah swt. Atau orang yang suci dari penyakit jiwa, bersih dari sifat-sifat tercela, menempuh jalan yang terpuji, mengikuti hakekat dan tidak tunduk pada seorang makhluk.”[12]. Lebih lanjut Syaikh Abdul Qadir mengatakan bahwa sufi adalah orang yang batin dan dhohirnya bersih mengikuti al-Qur’an al-Karim dan Sunah Rasul-Nya s.a.w..[13]
Corak Pemikiran Tasawuf Syaikh Abdul Qadir Al Jilani .
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menggambarkan secara lengkap tentang tasawuf yang memadukan antara ilmu syariat -yang didasarkaan pada al-Qur’an al-Karim dan Sunah Rasul s.a.w. dengan penerapan praktis dan keharusan untuk berpegang kepada syariat. Oleh karenanya tasawuf yang dirumuskan oleh Syaikh Abdul Qadir jauh dari paham-paham yang mengatakan, bahwa setelah seseorang mencapai tingkat hakekat, maka sudah tidak dibutuhkan lagi syariat.
Lebih lanjut bahwa corak pemikiran tasawuf Syaikh Abdul Qadir al-Jilani lebih condong kepada tasawuf yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali . Karena tasawuf Imam al-Ghazali berprinsip untuk tidak mening-galkan aqidah dan syariat.[14] Hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Syaikh Abdul Qadir pernah berguru kepada Imam al-Ghazali yang wafat pada tahun 505 H. Sementara Syaikh Abdul Qadir sampai di Baghdad pada tahun 488 H. Berarti Syaikh Abdul Qadir hidup bersama Imam al-Ghazali di Baghdad selama tujuh belas tahun. Maka sungguh mustahil jika beliau tidak pernah mendengar nama Imam al-Ghazali yang sangat masyhur itu, atau tidak pernah sama sekali berguru kepadanya. Karena itulah, setelah beliau melihat kedudukan Imam al-Ghazali di Baghdad, beliau ingin mengikuti jejaknya. Kemungkinan itu semakin kuat, bila kita melihat adanya keserupaan yang besar antara metode Imam al-Ghazali dengan metode Syeikh Abdul Qadir al-Jilani dalam penulisan buku mereka, yaitu Al Ihya’ dan Al Ghunyah.[15]
Karya-karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani .
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani termasuk tipe ulama yang selama masa hidupnya disibukkan dengan aspek pengajaran, pendidikan, perilaku dan ibadah, sehingga karya-karya beliau dalam bentuk tulisan tidak begitu banyak, karena sebagian besar waktunya tersita untuk kegiatan-kegiatan diatas. Karya-karya beliau dalam bentuk tulisan diantaranya adalah:
1. Al-Ghunyah li Thalib Thariiq al-Haq fi al-Akhlaq wa al-Tashawuf wa al- Adab al-Islamiyah yang terdiri dari dua juz dan terbagi menjadi lima bagian:
a) Dalam fiqh dan macam-macam ibadah, seperti sholat, zakat, puasa, haji, etika dan dzikir.
b) Dalam akidah, masalah keimanan, tauhid, kenabian, tempat kembali dan ahli bid’ah dari kelompok-kelompok sesat.
c) Beberapa majlis yang berkaitan dengan al-Qur’an, doa-doa dan fadlilah-fadlilah sebagian bulan dan hari.
d) Rincian beberapa hukum fiqh yang berkaitan dengan puasa, sholat dan doa.
e) Tentang tashawuf, adab dalam pergaulan, etika para murid, beberapa ahwal dan maqamat.
2. Futuh al-Ghaib, yaitu kitab yang berisi tentang nasehat-nasehat
3. yang berguna, pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat yang berbicara tentang banyak permasalahan, seperti penjelasan tentang keadaan dunia, keadaan jiwa dan syahwatnya dan ketundukan kepada perintah Allah swt.
4. Al-Fath al-Rabbani wa al-Faidl al-Rahmani, yaitu sebuah kitab yang mencakup wasiat, nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk di enam puluh dua majlis sejak tanggal 3-10-545 H sampai tanggal 6-7-546 H yang membahas tentang perma-salahan keimanan, keihlasan dan sebagainya.
Kiranya perjalanan hidup Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bisa menjadi pegangan bagi kita dalam mengarungi kehidupan yang fana ini dengan cara mengkhidmahkan diri kita untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Sehingga semua yang kita kerjakan hanya semata-mata mengharap ridlo Ilahi…amin.
[1] Maksudnya, bahwa karomah-karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani t dinukil segolongan ulama dari segolongan ulama lain yang tidak mungkin untuk melakukan kebohongan.[2] Majmu’ Fatawa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah: 10/516-517, Ibnu Taimiyah Pembaharu Salafi hal.63.[3] Lihat Thabaqaat al-Kubro, hal.181[4] Uraian ini disampaikan oleh al-Allamah al-Habib Zein bin Ibrohim bin Smith dari kota Madinah al-Munawwaroh ketika menyampaikan tausiyahnya dihadapan Jama’ah al-Khidmah dalam rangka Haflah Dzikir dan Maulidirrasul SAW serta Haul Akbar Syeikh Abdul Qadir al-Jilani ra. pada hari ahad, 19 Agustus 2007 di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya.[5] Al-Syathnufi, hal.: 88
[6] Al-Dzahabi dalam Siyar A’laam Nubala’: 20/410
[7] Dzail Thabaqaat al-Hanabilah: 1/291
[8] Siyar A’laam Nubala’: 20/439
[9] H.R. Imam Ahmad, Imam Al Baihaqi, Imam At Tirmidzi dll.
[10] Futuh al-Ghaib, uraian ke lima puluh tujuh, hal.:166, Buku Putih Syeikh Abdul Qadir Al Jailani: 418
[11] Penjelasan lebih mendetail silahkan lihat kitab Futuh al-Ghaib, uraian ke tujuh puluh lima dan Buku Putih Syeikh Abdul Qadir Al Jailani: 418-420
[12] Al-Gunyah: 2/160
[13] Al-Fath al-Rabbani, majlis ke lima puluh sembilan, hal. 222
[14] Aswaja al-Nahdliyah: 29
[15] Buku Putih Syeikh Abdul Qadir Al Jilani,
Terlepas dari pro dan kontra mengenai sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jilani , yang jelas ketokohan beliau dalam bidang Thariqah dan Tasawuf sangat masyhur, khususnya di negara kita. Hal itu bisa dibuktikan dengan menyebarnya thariqah beliau di seantero nusantara dan negera-negara lain di belahan bumi ini. Di Indonesia saja, manaqib beliau sangat terkenal dan dibaca di mana-mana oleh semua lapisan masyarakat, baik kalangan pejabat sipil, militer maupun rakyat biasa. Itu semua dapat kita jumpai ketika berlangsung acara-acara majlis dzikir, haul maupun majlis-majlis yang lain. Salah satunya yang terbesar adalah haul yang di selenggarakan oleh Jama’ah Al Khidmah di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya, yang tidak kurang dihadiri oleh tiga ratus ribu orang. Semua itu pada hakekatnya adalah bukti yang menunjukkan kedudukan beliau yang amat tinggi di sisi Allah swt, sehingga Allah swt memuliakan dan mengharumkan nama beliau. Walaupun beliau sudah tidak ada semenjak 867 tahun yang lalu.
Ketokohan beliau sangat masyhur dikalangan ahli thariqah. Di luar kalangan ahli thariqahpun nama beliau sangat harum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang terkenal kritis terhadap para ahli tasawuf dalam beberapa fatwanya menyanjung dan memuji Syaikh Abdul Qadir al-Jilani . Beliau menyebutkan, bahwa karomah-karomah yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Qadir dinukil secara mutawatir[1]. Beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sangat memuji Syaikh Abdul Qadir dengan pujian yang tidak pernah diungkap orang lain atau diungkapkan kepada orang lain, kecuali hanya sedikit. Beliau selalu menyertakan kata-kata qadda-sallahu sirrahu (mudah-mudahan Allah swt mensucikan ruhaninya) setiap kali menyebut nama Syaikh Abdul Qadir . Bahkan, beliau rahimahullah menulis sebuah artikel dalam fatwa-fatwanya yang mencakup terhadap penjelasan dan pengarahan terhadap sebagian kalimat dan makna yang terdapat dalam kitab Futuh al-Ghaib karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani .[2]
Nama beliau adalah Abu Sholih Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Yahya al-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahdi bin Hasan al-Mutsana bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Beliau dilahirkan di Jailan. Yaitu negeri terpencil di belakang Thabrastan, yang di kenal dengan Kail atau Kailan. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat ketika menisbatkan nama beliau kepada tanah kelahirannya. Sebagian ada yang menisbatkan wilayah Jilan ini menjadi Jili. Sebagian menisbatkannya menjadi Jilani (dan ini yang kami pakai karena penisbatan Jilani lebih masyhur dan terkenal dikalangan rakyat Indonesia).
Sebagian yang lain lagi menisbatkannya ke daerah Kailan menjadi Kailani. Sebagian orang yang menisbatkan beliau kepada Jilani mempunyai alasan karena beliau dilahirkan disana. Akan tetapi sebagian yang lain mengatakan bahwa penisbatannya kepada Jilani adalah karena Allah telah memberikan kepada Syaikh Abdul Qadir kedudukan yang sangat tinggi disisi-Nya sejak beliau berada di dalam kandungan ibunya (Innallaha tajalla ‘alaihi wahuwa fi bathni ummihi).
Beliau pernah ditanya kapan engkau mulai menjadi waliyullah? Beliau menjawab: “Sejak kanak-kanak, karena aku mendengar suara dari langit: ‘Ya Waliyallah lakukanlah seperti ini dan tinggalkanlah perkara ini.’.” Bahkan termasuk karomah beliau adalah sewaktu bayi ketika bulan Ramadlan beliau tidak pernah menetek kepada ibunya. Hal itu menjadi pedoman bagi penduduk Bagdad untuk menentukan awal bulan Rama-dlan[3] dan juga hari raya. Suatu hari mereka bertanya kepada ibunda Syaikh Abdul Qadir , apakah beliau siang itu menetek atau tidak. Ketika beliau tidak menetek maka bulan Ramadlan telah masuk dan apabila di siang hari -pada bulan Ramadlan- beliau menetek pada ibunya maka itu bertanda bahwa hari raya telah tiba.[4]
Beliau dilahirkan pada tahun 471 Hijriyah sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Imam al-Dzahabi dalam Siyar A’laam al-Nubala. Riwayat lain mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 470 Hijriyah sebagaimana keterangan Imam al-Sya’roni dalam Ath Thabaqaat Al Kubro dan juga keterangan dari beliau sendiri tentang kelahirannya. Beliau berkata: “Saya tidak mengetahui secara pasti, tetapi saya datang ke bagdad pada tahun ketika al-Tamimi masih hidup dan usia saya pada saat itu delapan belas tahun.”[5]. Al-Tamimi adalah ayah Muhammad Izzatullah bin Abdul Wahhab bin Abdul Azis bin al-Harits bin Asad yang meninggal pada tahun 488 Hijriyah. Beliau wafat pada malam Sabtu ba’da maghrib tanggal delapan Rabiul Akhir tahun 561 Hijriyah dan jenazahnya dimakam-kan dimadrasahnya setelah disaksikan oleh manusia yang tak terhitung jumlahnya.[6]
Beliau adalah ulama yang sangat harum namanya, berahlak mulia, selalu berada di antara orang-orang kecil dan para hamba sahaya untuk mengayomi mereka. Beliau senantiasa bergaul dengan orang-orang miskin sembari membantu membersihkan pakaian mereka. Beliau sama sekali tidak pernah mendekati para pembesar atau para pembantu negara. Juga sama sekali tidak pernah mendekati rumah seorang menteri atau raja.
Oleh karena itu tidak heran jika para ulama banyak memberikan gelar padanya. Diantara gelar yang diberikan kepada Syaikh Abdul Qadir adalah gelar Imam yang diberikan oleh Imam al-Sam’aani , seraya berkata: “Beliau adalah Imam pengikut madzhab Hambali dan guru mereka pada masanya.”[7] Imam al-Dzahabi juga memberinya gelar sebagai Syaikhul Islam ketika menulis biografinya dalan kitabnya Siyar A’lam al-Nubala.[8] Disamping gelar-gelar diatas masih banyak gelar-gelar yang diberikan oleh para ulama baik dari kalangan Hanabilah maupun Syafi’iyah yang tidak akan dipaparkan dalam tulisan ini.
Pemikiran Tasawuf Syaikh Abdul Qadir Al Jilani .
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitabnya, al-Ghunyah li Tholib al-Thoriq al-Haq mendefinisikan tasawuf sebagai pembenaran (percaya) kepada yang Haq (Allah ) dan berperilaku baik terhadap sesama hamba Allah swt. Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa aspek tasawuf bersandar pada dua hal:
1) Hubungan seorang hamba kepada Sang Kholiq dengan cara bersungguh-sungguh dalam me-ntaati segala perintah-Nya dan bersungguh-sungguh dalam usaha menjauhi larangan-Nya.
2) Hubungan seorang hamba dengan hamba yang lain dengan cara berperilaku yang baik dan berahlak yang terpuji. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bergaullah dengan manusia dengan perilaku yang terpuji.”[9]. Selain definisi di atas, beliau dalam kitabnya yang lain menjelaskan bahwa tasawuf adalah: bertakwa kepada Allah swt, mentaati-Nya, menerapkan syariat-Nya secara dhohir, menye-lamatkan hati, membaguskan wajah, melakukan dakwah, mence-gah penganiayaan, sabar menerima penganiayaan dan kefaqiran, menjaga kehor-matan para guru, bersikap baik dengan saudara, menasehati orang kecil dan besar, meniggalkan permu-suhan, bersikap lembut, melaksa-nakan fadlilah, menghindari menyimpan harta benda, menghindari persahabatan dengan orang yang tidak setingkat dan tolong-menolong dalam urusan agama dan dunia.”[10].
Definisi ini mencakup beberapa hal, yaitu: 1) Takwa kepada Allah swt, dengan cara menaatinya dengan menerapakan syariat-Nya dalam kehidupan sehari-hari. 2) Melatih, mendidik dan menyucikan jiwa untuk senantiasa berakhlak dengan sifat-sifat yang terpuji. 3) Menghargai orang lain dalam pergaulan sehari-hari dengan cara memberikan hak-haknya yang sesuai dan proporsional. Selain aspek-aspek di atas beliau juga menjelaskan bahwa tasawuf dibangun atas delapan dasar, yaitu: dermawan, ridha, sabar, isyarah, mengasingkan diri, tasawuf, bepergian, dan kefakiran.[11]
Kemudian Syaikh Abdul Qadir mendefinisikan Muta-shawif sebagai orang yang membebani dirinya untuk menjadi seorang sufi dan dia berupaya dengan sungguh-sungguh untuk bisa menjadi seorang sufi. Dia berupaya dan menempuh jalan satu kaum dan mengambilnya sebagai jalan suluk (menuju ke haribaan Allah swt). Sedangkan Sufi sendiri menurut Syaikh Abdul Qadir adalah orang yang telah merealisasikan makna-makna tasawuf, sehingga dia berhak untuk disebut sebagai seorang sufi. Dalam Ghunyah-nya beliau berkata: “Sufi diambil dari kata al mushafaat, yaitu seorang hamba yang telah disucikan oleh Allah swt. Atau orang yang suci dari penyakit jiwa, bersih dari sifat-sifat tercela, menempuh jalan yang terpuji, mengikuti hakekat dan tidak tunduk pada seorang makhluk.”[12]. Lebih lanjut Syaikh Abdul Qadir mengatakan bahwa sufi adalah orang yang batin dan dhohirnya bersih mengikuti al-Qur’an al-Karim dan Sunah Rasul-Nya s.a.w..[13]
Corak Pemikiran Tasawuf Syaikh Abdul Qadir Al Jilani .
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menggambarkan secara lengkap tentang tasawuf yang memadukan antara ilmu syariat -yang didasarkaan pada al-Qur’an al-Karim dan Sunah Rasul s.a.w. dengan penerapan praktis dan keharusan untuk berpegang kepada syariat. Oleh karenanya tasawuf yang dirumuskan oleh Syaikh Abdul Qadir jauh dari paham-paham yang mengatakan, bahwa setelah seseorang mencapai tingkat hakekat, maka sudah tidak dibutuhkan lagi syariat.
Lebih lanjut bahwa corak pemikiran tasawuf Syaikh Abdul Qadir al-Jilani lebih condong kepada tasawuf yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali . Karena tasawuf Imam al-Ghazali berprinsip untuk tidak mening-galkan aqidah dan syariat.[14] Hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Syaikh Abdul Qadir pernah berguru kepada Imam al-Ghazali yang wafat pada tahun 505 H. Sementara Syaikh Abdul Qadir sampai di Baghdad pada tahun 488 H. Berarti Syaikh Abdul Qadir hidup bersama Imam al-Ghazali di Baghdad selama tujuh belas tahun. Maka sungguh mustahil jika beliau tidak pernah mendengar nama Imam al-Ghazali yang sangat masyhur itu, atau tidak pernah sama sekali berguru kepadanya. Karena itulah, setelah beliau melihat kedudukan Imam al-Ghazali di Baghdad, beliau ingin mengikuti jejaknya. Kemungkinan itu semakin kuat, bila kita melihat adanya keserupaan yang besar antara metode Imam al-Ghazali dengan metode Syeikh Abdul Qadir al-Jilani dalam penulisan buku mereka, yaitu Al Ihya’ dan Al Ghunyah.[15]
Karya-karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani .
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani termasuk tipe ulama yang selama masa hidupnya disibukkan dengan aspek pengajaran, pendidikan, perilaku dan ibadah, sehingga karya-karya beliau dalam bentuk tulisan tidak begitu banyak, karena sebagian besar waktunya tersita untuk kegiatan-kegiatan diatas. Karya-karya beliau dalam bentuk tulisan diantaranya adalah:
1. Al-Ghunyah li Thalib Thariiq al-Haq fi al-Akhlaq wa al-Tashawuf wa al- Adab al-Islamiyah yang terdiri dari dua juz dan terbagi menjadi lima bagian:
a) Dalam fiqh dan macam-macam ibadah, seperti sholat, zakat, puasa, haji, etika dan dzikir.
b) Dalam akidah, masalah keimanan, tauhid, kenabian, tempat kembali dan ahli bid’ah dari kelompok-kelompok sesat.
c) Beberapa majlis yang berkaitan dengan al-Qur’an, doa-doa dan fadlilah-fadlilah sebagian bulan dan hari.
d) Rincian beberapa hukum fiqh yang berkaitan dengan puasa, sholat dan doa.
e) Tentang tashawuf, adab dalam pergaulan, etika para murid, beberapa ahwal dan maqamat.
2. Futuh al-Ghaib, yaitu kitab yang berisi tentang nasehat-nasehat
3. yang berguna, pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat yang berbicara tentang banyak permasalahan, seperti penjelasan tentang keadaan dunia, keadaan jiwa dan syahwatnya dan ketundukan kepada perintah Allah swt.
4. Al-Fath al-Rabbani wa al-Faidl al-Rahmani, yaitu sebuah kitab yang mencakup wasiat, nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk di enam puluh dua majlis sejak tanggal 3-10-545 H sampai tanggal 6-7-546 H yang membahas tentang perma-salahan keimanan, keihlasan dan sebagainya.
Kiranya perjalanan hidup Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bisa menjadi pegangan bagi kita dalam mengarungi kehidupan yang fana ini dengan cara mengkhidmahkan diri kita untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Sehingga semua yang kita kerjakan hanya semata-mata mengharap ridlo Ilahi…amin.
[1] Maksudnya, bahwa karomah-karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani t dinukil segolongan ulama dari segolongan ulama lain yang tidak mungkin untuk melakukan kebohongan.[2] Majmu’ Fatawa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah: 10/516-517, Ibnu Taimiyah Pembaharu Salafi hal.63.[3] Lihat Thabaqaat al-Kubro, hal.181[4] Uraian ini disampaikan oleh al-Allamah al-Habib Zein bin Ibrohim bin Smith dari kota Madinah al-Munawwaroh ketika menyampaikan tausiyahnya dihadapan Jama’ah al-Khidmah dalam rangka Haflah Dzikir dan Maulidirrasul SAW serta Haul Akbar Syeikh Abdul Qadir al-Jilani ra. pada hari ahad, 19 Agustus 2007 di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya.[5] Al-Syathnufi, hal.: 88
[6] Al-Dzahabi dalam Siyar A’laam Nubala’: 20/410
[7] Dzail Thabaqaat al-Hanabilah: 1/291
[8] Siyar A’laam Nubala’: 20/439
[9] H.R. Imam Ahmad, Imam Al Baihaqi, Imam At Tirmidzi dll.
[10] Futuh al-Ghaib, uraian ke lima puluh tujuh, hal.:166, Buku Putih Syeikh Abdul Qadir Al Jailani: 418
[11] Penjelasan lebih mendetail silahkan lihat kitab Futuh al-Ghaib, uraian ke tujuh puluh lima dan Buku Putih Syeikh Abdul Qadir Al Jailani: 418-420
[12] Al-Gunyah: 2/160
[13] Al-Fath al-Rabbani, majlis ke lima puluh sembilan, hal. 222
[14] Aswaja al-Nahdliyah: 29
[15] Buku Putih Syeikh Abdul Qadir Al Jilani,
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Anggota
Sociable
Feedjit
Mengenai Saya
Recent Posts Widget
Recent Comments
Label
- artikel (693)
- cerita (239)
- halimi zuhdy (50)
- religare (356)
- sastra (41)
Daftar Blog Saya
- Cerita Sejarah Pemerintahan Sementara - Dilansir dari GATRA, 31 Maret-6 April 2011 Judul : Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia ...1 hari yang lalu
-
- Pakaian Serba Hitam Ketika Melayat - Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Forsan Salaf selalu mendapatkan Rahmat & Ridha Allah Subhanahuwata’ala Amin! Jazakumullah atas jawaban t...1 hari yang lalu
- Sejarah singkat penamaan ahlusunnah wal jamaah - Sedikit tentang; ((( SEJARAH PENAMAAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ))) by AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah menulisk...2 hari yang lalu
- Telah Terbit! Jalan Penghambaan - Buku saya yang ke 4, Jalan Penghambaan telah terbit dan beredar di toko2 buku terutama Gramedia. Sebuah buku yang sarat dengan pembahasan makna & esensi ib...4 hari yang lalu
- Pengumuman Untuk Pengunjung Setia Blog www.luqman.co.cc - PENGUMUMAN اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ Kepada para pengunjung setia blog www.luqman.co.cc dengan saya, M. Luqman Firmansyah se...2 minggu yang lalu
- Sudahkah Kita Cinta Rasul - Sudahkah Kita Cinta Rasul SUMBER: Blog Mari Mencintai Rasul Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga. Ia menjual bunganya di pa...3 minggu yang lalu
- Mufti Agung Wahhabi-Salafy Dari Arab Saudi Dukung Rezim Mubarak Yang Pro Zionis Dan Amerika - Lagi-lagi kita dibikin geleng-geleng kepala oleh pernyataan ulama besar wahhabi-salafy yang sering diidolakan oleh para pengekornya, khususnya di Indonesia...1 bulan yang lalu
- Rasionalitas Eksistensi Tuhan - Jika pada masa abad pertengahan, ketika pengaruh agama terhadap institusi pemerintahan sedemikian besar sehingga sering2 bulan yang lalu
- Perjalan Ibadah Hajiku Dari Mesir Tahun 2008 - Oleh: Gus Mied Baidlowi Mahasiswa Al-Azhar University Cairo * * *Waktu Keberangkatan Ibadah Hajiku* Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya panggilan it...2 bulan yang lalu
- Tuhan Izinkan aku jadi petani - Tuhan Izinkan aku jadi petani seolah olah tak punya pendirian , dan seolah olah tidak mempunyai rasa bersyukur atas karunia tuhan yang diberikan kepadaku, t...4 bulan yang lalu
- Fitnah Hanabilah Mujassimah Yang Menyebabkan Berlakunya Pertumpahan Darah Di Baghdad – Bahagian 1 - Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh; Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, Rahmat ke seluruh alam; ...4 bulan yang lalu
- Arab Saudi, Kuburan Buruh Migran Indonesia - Laporan HRW: Hak-hak PRT Disangkali di Arab Saudi Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan dan para aktivis pembela hak-hak...11 bulan yang lalu
- Informasi Penerbit dan Penjual Kitab-Kitab Klasik - Bismillah.. Menanggapi pertanyaan para sahabat bagaimana cara memperoleh sumber pustaka klasik Islam dalam versi cetak, sengaja kami menyusun blog "Informa...1 tahun yang lalu
- PENGUMUMAN - Assalamualaikum Wr Wb Setelah beberapa saat absent di dunia maya karena sarat akan kesibukan Admin (Cak Sastro), kini kita akan aktifkan kembali blog Salaf...2 tahun yang lalu
- Aktif Lagi - Assalamualaikum wr wb Setelah sekian lama ngilang, Alhamdulillah weblog ini akan segera diaktifkan kembali. Banyaknya usulan via email supaya memakai kata-...3 tahun yang lalu
-
Daftar Blog penentang WAHABI/SALAFY
- Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat - Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat Silakan perhatikan hadis berikut yang memuat sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] d...5 hari yang lalu
- Khutbah Syeikh Fuad vs Khutbah Nik Aziz. - Dalam paparan 2 video khutbah yang disampaikan oleh Al-Fadhil Tuan Guru Syeikh Mohammad Fuad al-Maliki, ternyata begitu zalimnya golongan WAHABI yang me...6 hari yang lalu
- Inilah Ciri-ciri Aliran Sesat, Semuanya Ada di Salafy Wahabi - TANDA-TANDA ALIRAN SESAT MENURUT IMAM AS-SYATIBHI Oleh: Muhammad Idrus Ramli Bismillaahirrohmaanirrohiim Pada beberapa waktu yang lalu, Majlis Ulama Indone...1 minggu yang lalu
-
- Khuthbah Jumat 101-120 - Kumpulan *Khuthbah Jum'at* dalam bahasa arab KHUTBAH_JUMAH_11 Daftar Isi فِهْرِسْت 101 الإحسَـــانُ 102 مولد سيد الخلق وحبيب الحق محمد صلى الله عليه وسلم...3 bulan yang lalu
- Adakah Blog Ini Tergendala? - Assalamualaikum, Blog ini tergendala. Akan dikemaskini untuk memudahkan para pengunjung budiman. Bank Wahabi Asadullah.3 bulan yang lalu
- Cooking, Eating and Drinking in Europe since the Middle Ages - Sejarah sosial mengenai makanan dan minuman berjudul Cooking, Eating and Drinking in Europe since the Middle Ages http://www.4shared.com/document/_c3m3Wqn/...10 bulan yang lalu
- INILAH AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH “AKIDAH TANZIH” - بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله رب العالمين, المكون الأكوان, المدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأبيا...1 tahun yang lalu
- Wahabi Boleh Meliwat dan kaitannya dengan DR MAZA - GEMPAR!!!!!Nauzubillah!!!!Inilah yang boleh saya katakan apabila mengetahui Asri mengatakan ada ulama menghalalkan liwat. Sedangkan hukum nya sudah jelas,...1 tahun yang lalu
- Syeikh Wahabi, Agen Zionis Berjubah (terjemahan) - Assalamu’alaikum wr wb Karena banyaknya permintaan untuk terjemahan tulisan di bawah judul Syeikh Wahabi, Agen Zionis Berjubah maka Alhamdulillah saya puny...2 tahun yang lalu
- Hafiz Firdaus Guna Kasut & Pinggan Khinzir? Betul ke? - HAFIZ FIRDAUS PAKAI KULIT BABI ? BUKTI PILOT MENGAKU PAKAI KULIT BABI Assalamualaikum, Kalau disebut Kapten Hafiz Firdaus mesti ramai yang kenal wah...2 tahun yang lalu
Windows Live Messenger
Arsip Blog
- ▼ 2010 (244)
- ► 11/21 - 11/28 (6)
- ► 05/02 - 05/09 (17)
- ► 04/25 - 05/02 (1)
- ▼ 03/28 - 04/04 (53)
- KUMPULAN MAQOLAH DAN KATA MUTIARA DARI ROSULULLAH ...
- MUKMIN YANG LEBIH DICINTAI ALLAH SWT
- Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah
- SALAH FAHAM TERHADAP DO'A NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI...
- Tulisan Ini Dari Depan Sampe Belakang Berisi Banta...
- Kisah Bunda/Istri
- Bunuh Diri rame-rame Yuk!!!!!!!
- SYEKH ABDUL QODIR AL-JAELANI
- KAPANKAH SEBENARNYA AISYAH Ra Istri ROSULULLAH SAW...
- pirngaun
- ( PAKAIAN WANITA MUSLIMAH )
- KEJARLAH TUHAN, JANGAN KEJAR SURGA-NYA
- WANITA
- HULUL DAN WAHDAHTUL WUJUD
- Pernyataan Ulama Ahlussunnah Dalam Menjelaskan Bah...
- RUMAH TANGGA RASULULLAH SAW
- AKHLAK NABI SAW
- NASEHAT IBRAHIM BIN ADHAM
- MAWLID NABI SAW DAN KONTROVERSI MA'NA BID'AH
- siapakah penyebab semua ini??????
- QS: AL-IKHLAS
- Fathimah Radiyallahu ‘anha. Memahami Arti Jilbab y...
- SHOLAT BISU
- WASPADALAH AKAN SYIRIK DI SEKITAR KITA
- Kematian adalah Rekreasi yang Sejati
- MIMPI ROSULULLAH SAW
- TEMPAT FAVORIT BAGI SYAITON / SETAN
- CELANA DI BAWAH LUTUT
- 4GOLONGAN LELAKI AHLI NERAKA
- MANHAJ SALAF
- BEJANA DARI EMAS DAN PERAK
- JANGAN MERASA SIAL
- PACARAN?????????
- ADAM DAN MUSA 'ALAIHIMAS SALAM
- BELAJAR YANG ISLAMI
- ALLAH ADA DILANGIT
- RENUNGAN
- KECEPATAN CAHAYA DALAM QUR'AN
- KELEZATAN IMAN
- kasih sayang Rosulullah dan SahabatNYA terhadap Or...
- RUHUL JADID ( SEMANGAT BARU )
- ISLAM MENGHARAMKAN PATUNG / BERHALA
- HIKMAH ALLAH MENCIPTAKAN KEBURUKAN
- QS; AL AN'AM 151
- MENANGIS KARENA ALLOH
- Hukum Transaksi Jual Beli secara Kredit
- Masalah Membaca Al-Qur'an Bagi Yg Sdh Meninggal
- Tabarruk , Tawassul, dan Takwil
- ALLAH ADA TANPA TEMPAT
- Tidak Semua Makna Istawlâ atau Qahara Berindikasi ...
- salahpaham terhadap kandungan QS. al-Ma'idah: 44.
- Nasehat adz-Dzahabi Terhadap Ibn Taimiyah; Bukti P...
- DZIKIR
- ► 03/21 - 03/28 (2)
- ► 02/28 - 03/07 (15)
- ► 01/17 - 01/24 (136)
- ► 01/10 - 01/17 (14)


0 komentar:
Poskan Komentar
Link ke posting ini