Rabu, 30 Maret 2011

MenCari Sesuatu: CARA MENGHAPUS FOLDER AUTORUN.INF DAN RECYCLER

MenCari Sesuatu: CARA MENGHAPUS FOLDER AUTORUN.INF DAN RECYCLER: "CARA MENGHAPUS FOLDER AUTORUN.INF DAN RECYCLER Akhir akhir ini kita sering menemui folder aneh yang berupa folder autorun.inf dan r..."

Selasa, 29 Maret 2011

Sejarah Kesultanan Buton


Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

Sejarah Kesultanan Buton

Posted by orangbuton pada 6 Agustus 2008
Sebagai sebuah negeri, keberadaan Buton tercatat dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, negeri Buton disebut dengan nama Butuni. Digambarkan, Butuni merupakan sebuah desa tempat tinggal para resi yag dilengkapi taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru.
Dalam sejarahnya, cikal bakal Buton sebagai negeri telah dirintis oleh empat orang yang disebut dengan Mia Patamiana. Mereka adalah: Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati. Menurut sumber sejarah lisan Buton, empat orang pendiri negeri ini berasal dari Semenanjung Melayu yang datang ke Buton pada akhir abad ke-13 M. Empat orang (Mia Patamiana) tersebut terbbaagi dalam dua kelompok: Sipanjongan dan Sijawangkati; Simalui dan Sitamanajo. Kelompok pertama beserta para pengikutnya menguasai daerah Gundu-Gundu; sementara kelompok kedua dengan para pengikutnya menguasai daerah Barangkatopa.Sipanjongan dan para pengikutnya meninggalkan tanah asal di Semenanjung Melayu menuju kawasan timur dengan menggunakan sebuah perahu palolang pada bulan Syaban 634 Hijriyah (1236 M). Dalam perjalanan itu, mereka singgah pertama kalinya di pulau Malalang, terus ke Kalaotoa dan akhirnya sampai di Buton, mendarat di daerah Kalampa. Kemudian mereka mengibarkan bendera Kerajaan Melayu yang disebut bendera Longa-Longa. Ketika Buton berdiri, bendera Longa-Longa ini dipakai sebagai bendera resmi di kerajaan Buton.Sementara Simalui dan para pengikutnya diceritakan mendarat di Teluk Bumbu, sekarang masuk dalam daerah Wakarumba. Pola hidup mereka berpindah-pindah hingga akhirnya berjumpa dengan kelompok Sipanjonga. Akhirnya, terjadilah percampuran melalui perkawinan. Sipanjonga menikah dengan Sibaana, saudara Simalui dan memiliki seorang putera yang bernama Betoambari. Setelah dewasa, Betoambari menikah dengan Wasigirina, putri Raja Kamaru. Dari perkawinan ini, kemudian lahir seorang anak bernama Sangariarana. Seiring perjalanan, Betoambari kemudian menjadi penguasa daerah Peropa, dan Sangariarana menguasai daerah Baluwu. Dengan terbentuknya desa Peropa dan Baluwu, berarti telah ada empat desa yang memiliki ikatan kekerabatan, yaitu: Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu. Keempat desa ini kemudian disebut Empat Limbo, dan para pimpinannya disebut Bonto. Kesatuan keempat pemimpin desa (Bonto) ini disebut Patalimbona. Mereka inilah yang berwenang memilih dan mengangkat seorang Raja.
Selain empat Limbo di atas, di pulau Buton juga telah berdiri beberapa kerajaan kecil yaitu: Tobe-Tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan-kerajaan kecil dan empat Limbo di atas kemudian bergabung dan membentuk sebuah kerajaan baru, dengan nama kerajaan Buton. Saat itu, kerajaan-kerajaan kecil tersebut memilih seorang wanita yang bernama Wa Kaa Kaa sebagai raja. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1332 M.
Berkaitan dengana asal-usul nama Buton, menurut tradisi lokal berasal dari Butu, sejenis pohon beringin (barringtonia asiatica). Penduduk setempat menerima penyebutan ini sebagai penanda dari para pelaut nusantara yang sering singgah di pulau itu. Diperkirakan, nama ini telah ada sebelum Majapahit datang menaklukkannya. Dalam surat-menyurat, kerajaan ini menyebut dirinya Butuni, orang Bugis menyebutnya Butung, dan Belanda menyebutnya Buton. Selain itu, dalam arsip Belanda, negeri ini juga dicatat dengan nama Butong (Bouthong). Ketika Islam masuk, ada usaha untuk mengkaitkan nama Buton ini dengan bahasa Arab. Dikatakan, nama Buton berasal dari kata Arab bathni atau bathin, yang berarti perut atau kandungan.
Kerajaan Buton dan Islam
Dengan naiknya Wa Kaa Kaa sebagai raja, Kerajaan Buton semakin berkembang hingga Islam masuk ke Buton melalui Ternate pada pertengahan abad ke-16 M. Selama masa pra Islam, di Buton telah berkuasa enam orang raja, dua di antaranya perempuan. Perubahan Buton menjadi kesultanan terjadi pada tahun 1542 M (948 H), bersamaan dengan pelantikan Lakilaponto sebagai Sultan Buton pertama, dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Setelah Raja Lakilaponto masuk Islam, kerajaan Buton semakin berkembang dan mencapai masa kejayaan pada abad ke 17 M. Ikatan kerajaan dengan agama Islam sangat erat, terutama dengan unsur-unsur sufistik. Undang-undang Kerajaan Buton disebut dengan Murtabat Tujuh, suatu terma yang sangat populer dalam tasawuf. Undang-undang ini mengatur tugas, fungsi dan kedudukan perangkat kesultanan. Di masa ini juga, Buton memiliki relasi yang baik dengan Luwu, Konawe, Muna dan Majapahit.
Silsilah
Berikut ini daftar raja dan sultan yang pernah berkuasa di Buton. Gelar raja menunjukkan periode pra Islam, sementara gelar sultan menunjukkan periode Islam.
Raja-raja:
1. Rajaputri Wa Kaa Kaa
2. Rajaputri Bulawambona
3. Raja Bataraguru
4. Raja Tuarade
5. Rajamulae
6. Raja Murhum
Sultan-sultan:
1. Sultan Murhum (1491-1537 M)
2. Sultan La Tumparasi (1545-1552)
3. Sultan La Sangaji (1566-1570 M)
4. Sultan La Elangi (1578-1615 M)
5. Sultan La Balawo (1617-1619)
6. Sultan La Buke (1632-1645)
7. Sultan La Saparagau (1645-1646 M)
8. Sultan La Cila (1647-1654 M)
9. Sultan La Awu (1654-1664 M)
10. Sultan La Simbata (1664-1669 M)
11. Sultan La Tangkaraja (1669-1680 M)
12. Sultan La Tumpamana (1680-1689 M)
13. Sultan La Umati (1689-1697 M)
14. Sultan La Dini (1697-1702 M)
15. Sultan La Rabaenga (1702 M)
16. Sultan La Sadaha (1702-1709 M)
17. Sultan La Ibi (1709-1711 M)
18. Sultan La Tumparasi (1711-1712M)
19. Sultan Langkariri (1712-1750 M)
20. Sultan La Karambau (1750-1752 M)
21. Sultan Hamim (1752-1759 M)
22. Sultan La Seha (1759-1760 M)
23. Sultan La Karambau (1760-1763 M)
24. Sultan La Jampi (1763-1788 M)
25. Sultan La Masalalamu (1788-1791 M)
26. Sultan La Kopuru (1791-1799 M)
27. Sultan La Badaru (1799-1823 M)
28. Sultan La Dani (1823-1824 M)
29. Sultan Muh. Idrus (1824-1851 M)
30. Sultan Muh. Isa (1851-1861 M)
31. Sultan Muh. Salihi (1871-1886 M)
32. Sultan Muh. Umar (1886-1906 M)
33. Sultan Muh. Asikin (1906-1911 M)
34. Sultan Muh. Husain (1914 M)
35. Sultan Muh. Ali (1918-1921 M)
36. Sultan Muh. Saifu (1922-1924 M)
37. Sultan Muh. Hamidi (1928-1937 M)
38. Sultan Muh. Falihi (1937-1960 M).
Periode Pemerintahan
Era pra Islam Kerajaan Buton berlangsung dari tahun 1332 hingga 1542 M. Selama rentang waktu ini, Buton diperintah oleh enam orang raja. Sementara periode Islam berlangsung dari tahun 1542 hingga 1960 M. Selama rentang waktu ini, telah berkuasa 38 orang raja. Sultan terakhir yang berkuasa di Buton adalah Muhammad Falihi Kaimuddin. Kekuasaannya berakhir pada tahun 1960 M.
Wilayah Kekuasaan
Kekuasaan Kerajaan Buton meliputi seluruh Pulau Buton dan beberapa pulau yang terdapat di Sulawesi.
Struktur Pemerintahan
Kekuasasan tertinggi di Kerajaan Buton dipegang oleh sultan. Struktur kekuasaan di kesultanan ditopang oleh dua golongan bangsawan: kaomu dan walaka. Walaka adalah golongan yang memegang adat dan pengawas pemerintahan yang dijalankan oleh sultan. Wewenang pemilihan dan pengangkatan sultan berada di tangan golongan Walaka, namun, sultan harus berasal dari golongan kaomu. Untuk mempermudah jalannya pemerintahan, Buton menjalankan sistem desentralisasi dengan membentuk 72 wilayah kecil yang disebut kadie. Beberapa jabatan yang ada di struktur pemerintahan Buton adalah bontona (menteri), menteri besar, bonto, kepala Siolimbona dan sekretaris sultan.
Kehidupan Sosial Budaya
Sebagai kerajaan Islam yang tumbuh dari hasil transmisi ajaran Islam di Nusantara, maka kerajaan Buton juga sangat dipengaruhi oleh model kebudayaan Islam yang berkembang di Nusantara, terutama dari tradisi tulis-menulis. Bahkan, dari peninggalan tertulis yang ada, naskah peninggalan Buton jauh lebih banyak dibanding naskah Ternate, negeri darimana Islam di Buton berasal. Peninggalan naskah Buton sangat berarti unutk mengungkap sejarah negeri ini, dan dari segi lain, keberadaan naskah-naskah ini menunjukkan bahwa kebudayaan Buton telah berkembang dengan baik. Naskah-naskah tersebut mencakup bidang hukum, sejarah, silsilah, upacara dan adat, obat-obatan, primbon, bahasa dan hikayat yang ditulis dalam huruf Arab, Buri Wolio dan Jawi. Bahasa yang digunakan adalah Arab, Melayu dan Wolio. Selain itu, juga terdapat naskah yang berisi surat menyurat antara Sultan Buton dengan VOC Belanda.
Kehidupan di bidang hukum berjalan denga baik tanpa diskriminasi. Siapapun yang bersalah, dari rakyat jelata hingga sultan akan menerima hukuman. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya mendapat hukuman karena melanggar sumpah jabatan. Satu di antaranya, yaitu Sultan ke-8, Mardan Ali (La Cila) dihukum mati dengan cara digogoli (dililit lehernya dengan tali sampai mati).
Dalam bidang ekonomi, kehidupan berjalan dengan baik berkat relasi perdagangan dengan negeri sekitarnya. Dalam negeri Buton sendiri, telah berkembang suatu sistem perpajakan sebagai sumber pendapatan kerajaan. Jabatan yang berwenang memungut pajak di daerah kecil adalah tunggu weti. Dalam perkembangannya, kemudian tejadi perubahan, dan jabatan ini ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena. Dengan perubahan ini, maka Bonto Ogena tidak hanya berwenang dalam urusan perpajakan, tapi juga sebagai kepala Siolimbona (lembaga legislatif saat itu). Sebagai alat tukar dalam aktifitas ekonomi, Buton telah memiliki mata uang yang disebut Kampua. Panjang Kampua adalah 17,5 cm, dan lebarnya 8 cm, terbuat dari kapas, dipintal menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain secara tradisional.
Secara umum, ada empat prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat Buton dalam kehidupan sehari-hari saat itu yakni:
1. Yinda Yindamo Arata somanamo Karo (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
2. Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
3. Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
4. Yinda Yindamo Sara somanamo Agama (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)
Buton adalah sebuah negeri yang berbentuk pulau dengan letak strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah di kawasan timur, dengan para pedagang yang berasal dari kawasan barat Nusantara. Karena posisinya ini, Buton sangat rawan terhadap ancaman eksternal, baik dari bajak laut maupun kerajaan asing yang ingin menaklukkannya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, maka kemudian dibentuk sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Lapis pertama ditangani oleh empat Barata, yaitu Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa. Lapis kedua ditangani oleh empat Matana Sorumba, yaitu Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka, sementara lapis ketiga ditangani oleh empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan). Untuk memperkuat sistem pertahanan berlapis tersebut, kemudian dibangun benteng dan kubu-kubu pertahanan. Pembangunan benteng dimulai pada tahun 1634 oleh Sultan Buton ke-6, La Buke. Tembok keliling benteng panjangnya 2.740 meter, melindungi area seluas 401.900 meter persegi. Tembok benteng memiliki ketebalan 1-2 meter dan ketinggian antara 2-8 meter, dilengkapi dengan 16 bastion dan 12 pintu gerbang. Lokasi benteng berada di daerah perbukitan berjarak sekitar 3 kilometer dari pantai.
Demikianlah deskripsi ringkas mengenai Kerajaan Buton. Saat ini, di bekas wilayah kerajaan ini, telah berdiri beberapa kabupaten dan kota yaitu: Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kota Bau–Bau. Kota Bau-bau ini merupakan pusat Kerajaan Buton pada masa dulu. Hingga saat ini, masih tersisa peninggalan kerajaan, di antaranya bangunan istana. Sumber: melayuonline
Be the first to like this post.

14 Tanggapan to “Sejarah Kesultanan Buton”

  1. DASA ISKANDAR OGO berkata

    karena kulisusu merupakan bagian dari kesultanan Buton… orang2 kulisusu sebetulnya dari keturunan apa ?
  2. Sejarah sudah sangat baik dipaparkan,bagaimana kalau ditambah dengan kupasan dari segi bahasa daerahnya, karena setahu saya di Kabupaten Buton sangat mempunyai ragam bahasa daerah .
  3. Saya hanya heran saja, Buton yang berdiri kokoh didirikan orang lain, coba tanya. Sebelum aakhir abad 13 atau sebelum mia pantamiana itu ada, aapa pulau buton belum ada, satu!. Dua, apa sebelum mia pantamiana itu datang ke Buton, apakah belum ada satupun masyrakat atau kehidupan yang ada di pulau Buton?, tiga kerajaan2 kecil yang belum ada sebelum kedatangan mia pantamiana seharusnya diakui sebagai peletak dasar kesultanan Buton. Begini, tradisi tulis kerajaan sebelumnya belum dilakukan sehingga apa yang diakui dan dikutip berulan2 tampa kita sadari telah ikut merendahkan posisi kita orab Buton sekedar penerus hasil kreasi orang2 Melayu?
  4. nadya berkata

    sudah banyak artikel dan buku atau cerita yang saya dengar, namun sy sempat berpikir kok tidak ada yang sama…. apa memang sejarah begitu banyak fersih,pihak lain mengatakan bahwa informasinya yang benar yang itu tidak, sebaliknya juga pihak yang lain… disinilah kelemahan qt org buton jarang mau kerjasama untuk kepentingan bersama hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan…maaf bila hal ini tidak benar…. saya sebagai orang buton sangat sedih
  5. Dhany berkata

    Keturunan Sultan La Jampi dan La Ode Wita (Kapitalau Kamaru),banyak berada di Raha/berasal dari Muna adalah orang orang yang berahlak baik dan cendekia….banyak telah bergelar DOktor. (DR. La Ode HUsen Biku (anggota Kompolnas, SH, MH, DR. La Ode Ramadhan Biku, Dr. Abd.Radjab (Wakil Ketua DPRD Muna,
    dan banyak yang lain.
  6. Putra buton berkata

    Mari kita bersama untuk menyatukan sejarah,bukan saling bantah.
  7. Ali Baba berkata

    Buton berkembang hasil penyatuan paham islam dan masyarakat setempat dg dasar itu islam dpt diterima oleh masyarakat buton sebagaimana sejarah telah mencatat. adapun mengenai org asli buton itu kita kembalikan kepada awal dan akhir dalam artian cuma ada satu asal keturunan berbeda pemahaman.
  8. acid berkata

    sekedar inpormasi masuknya islam di buton bukan dari daerah tetangga yg mengakui dirinya islam dulu baru ke buton sebenarnya di kesultanan buton dulu islam baru kesultana mereka mereka
  9. jabar berkata

    siapa sebenarnya orang yang memimpin tanah buton?
    kalosaya pernah membaca sebuah artikel, orang yng memimpn tanah buton adalah orang di luar tanah buton,!
    lalu orang asli buton yang mana??????
  10. alex berkata

    Sdr Rabani,
    Saya sependapat dengan anda, sebaiknya forum ini jangan terkooptasi dari sejarah buton yang ada. Benar Rabani, bahwa dalam buku Darul Adat Fii Butuni sudah mengakui (walaupun hanya dalam hal perkelahian antara salah seorang dari mia patamiana dengan pemilik enau, tapi itu sudah menunjukkan bahwa ada orang lain sebelum kedatangan mia patamiana. Betul dari awal namanya sudah Buton, tapi pusat pemerintahan bukanlah Bau-bau yang pertama. Ada beberapa tempat lain yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Buton.
    Artinya, janganlah kita bertengkar soal Buton,hanya merujuk kepada sejarah yang sudah tertulis,………ada “cara” lain untuk menelusuri Buton kebelakang.
    Saya pahami kalau banyak penanggap mempertanyakan ke-butonan mereka, karena banyak orang (tidak semua) yang sekarang ini mengaku aslinya Buton, sebenarnya adalah pendatang dan itulah yang menjadi penggerogot buton
  11. faisal syamet berkata

    saya cuman ingin tau… sebenarnya siapa orang pertama yang memimpin buton…??? kalau dia dari Arab atau China atau Mongol… mengapa pada saat itu orang buton tidak menggunakan bahasa Arab Mongol Atau China dan sesungguhnya darimana asal mula bahasa Buton atau Wolio itu sendiri,,,,mohon penjelasannya…
  12. alex berkata

    Bung Faisal,
    Awal Buton bukan dari ketiga bangsa yang anda sebutkan dan awal Buton bukan di bau-bau sekarang ini. Sejarah telah dibuat sedemikian rupa sehingga asal muasal suatu negeri berpindah,,,,dan ini tidak hanya terjadi buat Buton saja tetapi hampir terjadi pada seluruh nusantara ini. Saya siap mempertanggung jawabkan pernyataan saya ini jika tanda2 perubahan yg sekarang ini muncul sudah benar2 terjadi
  13. soleman berkata

    buton belum saatnya untuk membuka diri..
  14. ayu pwjo berkata

    saya kurang paham dari sejarah buton ini. dimana informasi yang lebih jelas karena banyak hasil wawancara saya dengan para orang tua tentang letak kerajaan buton yamg pertama bukanlah di kota bau-bau.nanti setelah benteng di bangun oleh sultan ke 6 labuike baru pemerintahan di pindahkan ke kota bau-bau. di mana letak tiang bendera pertama kerajan buton? bagaimana dengan kota pasarwajo tepatnya di desa takimpo?apa ada yang tau tentang itu ?

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *
*
Anda dapat menambahkan HTML serta atribut-atribut berikut:
       
      
 

SULTAN MURHUM


SULTAN MURHUM

Sultan Murhum
TOKOH PEMERSATU KERAJAAN-KERAJAAN TRADISIONAL DI SULAWESI TENGGARA
OLEH; Prof. Mahmud Hamundu
Disajikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara di Baruga Keraton Buton Sulawesi Tenggara tanggal 5-8 Agustus 2005
1. Pengantar
Jauh sebelum Propinsi Sulawesi Tenggara terbentuk, telah ada ratusan kerajaan di daerah ini dengan status pemerintahan otonom. Dari sekian kerajaan itu sekurang-kurangnya terdapat lima kerajaan besar sebagai kerajaan induk ; Kerajaan Buton, Kerajaan Wuna, Kerajaan Kaledupa, Kerajaan Konawe dan kerajaan Moronene. Dari kelima kerajaan itu hanya Kerajaan Buton yang tercatat dalam sejarah kerjaan-kerajaan besar di Nusantara. Tercatatnya Kerajaan Buton dalam lembaran lembara sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara tersebut tidak berarti bahwa kerajaan-kerajaan tradisional lainya di wilayah Sulawesi Tenggara berada di bawah garis komando atau taklukan Kerajaan Buton, akan tetapi lebih disebabkan oleh factor interen kerajaan itu sendiri.
Hubungan harmonis antara komunitas kerajaan tradisional di Sulawesi Tenggara pada masa itu tidak saja disebabkan olehkedekatan kultur dan geografis akan tetapi disebabkan oleh factor social ekonomi. Dalam pada itu proses kawin mawin antarakomunitas kerajaan terutama bagi kalangan petinggi kerajaan tidak dapat dihindari. Inilah yang dimaksud dengan strategi politik dalam kerajaan-kerajaan tradisional dalam rangka membangun hubungan kerja sama yang harmonis antarkomunitas keraajaan. Lama kelamaan terjalinlah lintas kepemimpinan dengan figure pemimpin berdarah campuran. Hal ini terlihat pada kepemimpinan Raja La Kilaponto, yaitu pernah memimpin lima kerajaan besar di Sulawesi Tenggarapada zamannya ( Kerajaan Buton, Kerajaan Wuna, Kerajaan Kaledupa, Kerajaan Konawe, dan Kerajaan Kabaena) hal ini sebagai mana dijelaskan kutipan dibawah ini ;
‘ Adapun tatkala Murhum menjadi raja dalam negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian negeri karena ia Raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna, jadi ikut sekalian negeri ini seperti Kaledupa dialihkannya, Mekongga dialihkannya dan Kobaena dialihkannya. Maka sekalian negeripun dialihkannya oleh Murhum ( Koleksi belanda, hal 1 )’
La Kilaponto di terimah sebagai raja di setiap kerajaan yang dipimpinnya bukan semata-mata karena kharismatik yang dimilikinyaakan tetapi karena kedekatan hubungan kefamilian dengan raja-raja di tempat dia diangkat menjadi raja. Menurut silsilah tampak bahwa La Kilaponto tidak saja memiliki hubungan kefamilian dengan keluarga raja-raja besar di Sulawesi tenggara seperti Kerajaan Buton, Kerajaan Wuna, Kerajaan TiworoKerajaan Mekongga Kerajaan Kamaru, Kerajaan Moronene, akan tetapi lebih jauh memiliki hubungan kefamilian dengan raja-raaja Bugis, jawa dan China.
2. Nama dan Gelar
Dalam beberapa kitab kuno Buton yang tersimpan di koleksi KTVL Negeri belanda terutama kitab yang memuat silsilah raja-raja Buton dan silsilah raja-raja Muna diperoleh keterangan bahwa nama La Kolaponto selalu dikaitkan dengan dua nama lain yaitu Murhum dan La Tolaki. Hal ini seperti dijelaskan salah satu kutipan di bawah ini ;
“ bahwa inilah anaknya Wa kaaka yang tinggal di dalam Negeri Buton ini yang bernama Bulawambona. Maka Bulawambona bersuami dengan Labaluwu, maka beranakan seorang seorang laki-laki bancapatola namanya yaitu batara Guru, maka batara Guru beristri dengan Waeloncugi yaitu Dungkucangia tetapi asal peri juga, maka batara Guru dan Waeloncugi pun beranak tiga orang laki-laki pertama Rahja Manguntu, kedua Tua maruju, ketiga Tua Rade. Itulah yang menjadi raja Butun. Dan lagi anaknya kepada gundinya seorang laki-laki yang bernama Kiyaijula. MAKA KIYAIJULA BERISTRI DENGAN ANAKNYA RAJA TIWORO WA RANDEA ( NAMANYA) SAUDARA WA SITAO ISTRI MOKOLE KONAWE BERNAMA WA TUBAPALA, maka Wa Tubapala bersuami dengan Raja Wuna bernama Sugi Manuru. Setelah itu, maka Wa Tubapalu beranak tiga namanya timbang-timbangan La Kilaponto yaaitu Murhum, dan lagi seorang Kobangkuduno yaitu La Posasu namanya. Dan perempuan itu Wa Karamaaguna namanya yaitu Wa Ode Pogo ( Koleksi KTVL Belanda hal.2 )”
Dalam tradisi lisan meuncul pula nama Haluole. yang menurut Rustam Tamburaka nama terakhir ini adalah salah satu nama lain La Kilaponto dan Murhum, tetapi kebenaran pendapat tersebut masih memerlukan studi lebih lanjut. Agar tidak terjadi kesalah pahaman keempat nama dimaksud di jelaskan seperti dibawah ini;
2.1. La Kilaponto
Nama La Kilaponto umumnya lebih popular di kalangan masyarakat Muna. Beliau adalah putra Raja Muna keenam bernamaa Sugi Manuru. Menurut Couvreur (1935;5) Sugimanuru mempunyai empat belas orang putra terdiri atas sebelas orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Keempat belas orang dimaksud adalah (1) Kakodo, (2) Manguntara, (3) La Kakolo, (4) La Pana, (5) Tendridatu, (6) Kalipatolo, (7) Wa Sidakari, (8) La Kilaponto, (9) La Posasu, (10) Rimbaisomba, (11) Kiraimaguna, (12) Patolakamba, (13) Wa Golu, (14) Wa Ode Pogo.
2.2. Murhum atau Marhum
Nama Murhum umumnya popular di dalam lingkungan komunitas masyarakatButon. Murhum adalah gelar yang diberikan kepada La Kilaponto setelah dilantik menjadi Sultan Buton tang pertama oleh Syekh Abdul Wahid berkebangsaan Arab dan salah seorang imam dari patani tahun 948 H atau 1542 M. Beberapa penulis sejarah buton menjelaskan bahwa gelar Murhum diberikan kepada Raja La Kilaponto setelah meninggal dunia, ( Murhum berasal dari kata al-marhum). Sesungguhnya tidaklah demikian, akan tetapi nama murhum dikaitkan dengan nama sebuah kampong dari patani berdekatan dengan kampong Kerisik. Menurut Saghir Abdullah (2000:37) kampong Murhum dikenal sebagai pusat seluruh kegiatan kesultanan Fathani Darus Salam pada zamaan dahulu. Imam Patani yang mendampingi Sykeh Abdul Wahid pada saat pelantikan La Kilaponto menjadi Sultan Buton pertama berasal dari kampong Murhum ini. Tampaknya gelar Murhum tidak saja disandang oleh Sultan di Buton tetapi juga disandang oleh Sultan di Aceh dan sultan di Ternate.
Dalam hikayat Patani (teeuw. 190:133) kata Murhum atau Marhum merupakan padanan kata Raja. Perhatikan kutipan dibawah ini :
“ Setelah sapai ke Patani, maka Syahbandar pun masuk menghadap Duli Yang Diperuan Murhum. “ Suruh panggil orang itu”. Maka Cau Hang pun masuk menghadap Murhum dubawah oleh Syahbandar. Maka titah Paduka Murhum…..”
Di Patani terdapat bebrapa Murhum; Murhum Tambangan, Murhum Besar, Murhum Bungsu, Murhum Tengah, Murhum Teluk, dan Murhum Kelantang.
2.3. La Tolaki
Nama La tolaki ini, meskipun kurang popular di masyarakaat ( Buton, Muna dan Tolaki), banyak ditemukan dalam beberapa kitab kuno dan arsip-arsip Kerajaan Buton dan Kerajaan Muna. Menurut kedua sumber tersebut, La Kilaponto merupakan nama lain dari La Kilaponto dan Murhum yang juga putera raja Muna Sugi Manuru. La Tolaki adalah nama gelar yang diberikan kepada La Kilaponto setelah diangkkat menjadi Mokole di Konawe. Selah satu sumber arsip menjelaskan seperti di bawah ini :
“ Setelah bebrapa lamanya maka terdengar chabar oleh La Kilaponto ( Murhum) bahwa dari Wa Sitao abak dari Mokole Konawe telah meninggal dunia dengan meninggalkan harta benda yang menjadi pusaka Wa Sitao dan Wa Randea nenek Murhum tersebut. Mendengar itu, maka La Kilaponto ( Murhum) sampailah di Konawe dan disebut namaanya La tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Mekongga dan Konawe, dalam peperangan itu dimana Konawe mendapaat kemenangan” ( La Ode Abdul Kudus, 1962;2).
Kata Tolaki terdiri dari dua kata, to berarti orang dan laki berarti jantan. Jadi Tolaki berarti orang jantan atau pahlawan. Orang jantan yang dimaksud di sini ditujukan kepada La Kilaponto atas keberaniannya dalam mendamaikan dua kelompok yang berperang.
2.4. Haluoleo
Munculnya nama Haluoleo sebagai nama dari La Kilaponto, Murhum, dan La Tolaki pada prinsipnya baru dikenalkan kemudian dan mengemuka setelah dipublikasikannya hasil penelitian Rustam Tamburakan dkk bertajuk Sejarah Sulawesi Tenggara. Nama ini hanya muncul dlam tradisi lisan, tidak pernah disebut-sebut dalam kitab kuno atau dalam arsip-arsip kerajaan. Haluoleo dalam bahasa Tolaki Delapan hari ( halu = delapan, dan oleo = hari ). Dalam kemunculannya sebagai tradisi lisan tampaknya pemahaman terhadap haluoleo telah melahirkan beberapa versi cerita yang berbeda satu sama lain.
Menurut Versi Tolaki sebagai mana dikembangkan oleh Rustam Tamburaka dkk, Haluoleo adalah nama tokoh yang penamaannya dihubungkan dengan proses kelahirannya yaitu bahwa menjelang kelahirannya ibu dari pasangan ibi dari salah seorang kepala suku di Konawe mengalami rasa sakitsehingga delapan hari. Muna dan Buton, haluoleo bukan nama tokoh tetapi nama peristiwa sejarah. Ketika itu La Kilaponto menjadi Mokole di Konawe, telah terjadi perang saudaraantara Mekongga dan konawe. Perang itu berlangsung selamaa delapan hari dan berhasil didamaikan oleh La Kilaponto atau La Tolaki. Sementara itu versi Moronene, haluoleo dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh sehingga ia diangkat menjadi Raja Moronene. Menurut versi ini Haluoleo dikenal sebagai putra Raja Luwu dan mempunyai dua orang putera masing-masing Mororimpu sebagai Raja Rumbia dan Sangia Tewaleka sebagai Raja Poleang.
Sebagaimana disinggung terdahulu bahwa La Kilaponto pernah menjadi Raja di tiga kerajaan besar di Sulawesi tenggara, yaitu Buton, Muna dan onawe. Tidak diperolah keterangan yang pasti berapa lama La Kilaponto menjadi raja atau mokole. Ia menjadi raja di Muna selama tiga tahun kemudian menjadi Raja Buton selama empat puluh enam Tahun.
 
    Web blogdetik 

LA KILAPONTO RAJA MUNA YANG MENJADI RAJA DI LIMA KERAJAAN BESAR DI WAKTU YANG BERSAMAAN


LA KILAPONTO RAJA MUNA YANG MENJADI RAJA DI LIMA KERAJAAN BESAR DI WAKTU YANG BERSAMAAN

dsc00003Lakilaponto Raja Muna VII ( 1538- 1541 M ), adalah manusia yang fenomenal. Dia memimiliki kesaktian yang tinggi, ahli strategi perang, piawai dalam berdiplomasi serta pakar ketata negaraan. Karena kepiawaiannya tersebut LA KILAPONTO pernah memimpin lima kerajaan besar dalam waktu bersamaan, hal ini dijelaskan dalam dokumen koleksi Belanda “ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian Negeri, karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekonggo dialihkan, dan kabaena di Alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 ). Karena itulah LA KILAPONTO dikalangan masyarakat muna di beri gelar ‘ mepokonduaghono Adhati’ artinya orang yang menggabungkan adat
Merujuk dari naskah diatas berarti LA KILAPONTO Pernah menjadi raja di Kerajaan Muna, Konawe, Mekongga, Kaledupa dan di Buton. Namun dari semua kerajaan tersebut hanya di kerjaan Buton LA KILAPONTO memerintah cukup lama yaitu 46 tahun ( 1538 – 1584 M ). Di kerajaan Muna LA KILAPONTO menjadi raja kurang lebih 3 tahun ( 1538 – 1541 M ), setelah itu dilanjutkan oleh adiknya LA POSASU sebagai Raja Muna VIII. Sedangkan di kerajaan-kerajaan lainnya tidak ada catatan sejarah yang mengungkapkan berapa lama LA KILAPONTO menjadi Raja di kerajaan tersebut serta bagaiman proses penyerahan kekuasaan pasca LA KILAPONTO.
LA KILAPONTO menjadi Raja pada kerajaan – kerajaan itu bukan karena invasi, tetapi karena kharisma beliau atau penghargaan karena berhasil melakukan sesuatu yang besar dinegeri tersebut. Hal ini dapat dilihat setelah beliau menjadi Penguasa di negeri itu dia tidak berusaha untuk menjadikan negeri itu sebagai koloni atau bagian dari Kerajaan Muna, tetapi membiarkan tetap merdeka dan Berdaulat. Padahal bila mau LA KILAPONTO dapat saja menggabung kerajaan-kerajaan tersebut dibawah kerajaan Muna karena sebagai raja dia punya kekuasaan yang besar.
Sebagai seorang raja di Lima Kerajaan besar LA KILAPONTO tentu saja memiliki kemampuan yang lebih dari yang lainnya. LA KILAPONTO dikenal mewarisi ilmu yang diturunkan oleh ayahandanya SUGI MANURU di bidang Tata Negara, diplomasi dan strategi perang. Potensi yang dimiliki LA KILAPONTO tersebut telah dilihat oleh ayahandanya SUGI MANURU. Olehnya itu sebelum dinobatkan menjadi Raja Muna LA KILAPONTO ditugaskan untuk melaksanakan misi diplomasi dibeberapa kerajaan seperti Todore, Ternate, Banggai dan Luwu. ( Lakimi; Sejarah Muna, Jaya Press Raha). Misi diplomatik yang dilakukan LA KILAPONTO sangat sukses, sebab beliau dapat meyakinkan kerajaan-kerajaan yang dikunjunginya untuk menjalin kerja sama dengan kerajaan Muna. Hal ini dibuktikan setelah kunjungan diplomatik tersebut sudah tidak ada lagi gangguan keamanan dan kedaulatan Kerajaan Muna yang datang dari kerajaan-kerajaan tersebut.
Kepakaran LA KILAPONTO dalam bidang ketatanegaraan dapat dilihat saat beliau menjaddi penguasa di suatu negeri. Selain Hal ini dapat dilihat pada saat ,menjadi Raja di suatu kerajaan beliau melakukan penataan sisten ketata negaraan Kerajaan tersebut. Beliau juga menanamkan falsafa atau nilai-nilai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang diajarkan oleh SUGI MANURU yaitu ;
Pobini-biniti kuli, ( saling tengang rasa )
Poangka-angka tau, ( Saling harga-menghargai )
Poma-masigho, ( Saling sayang- menyayangi )
Poadha-adhati. (Saling menghormati )
Keempat prinsip dasar diatas wajib dipahami dan dijalankan oleh setiap warga kerajaan dalam hal ini termasuk juga Raja dan aparat kerajaan lainnya.
LA KILAPONTO juga menyebar luaskan konstitusi Negara kerajaan Muna pada kerjaan-kerajaan yang dipimpinnya Yaitu :
Hansuru –hansuru badha Sumano kono hansuru liwu ( Biarlah badan binasa asal Negara tetap berdiri ).
Hansuru-hansuru Liwu Sumano kono hansuru Ahdati ( kalaupun Negara harus bubar adat tetap harus dipertahankan ).
Hansuru-hansuru Adhati sumano Tangka Agama ( Kalupun adat tidak bisa lagi dipertahankan, agama harus tetap ditegakkan ).
Falsafah dasar dan Konstitusi kerajaan Muna yang telah di ajarkan oleh Ayahandanya Raja Muna VI Sugi Manuru kemudian disebar luaskan pada kerajaan-kerajaan yang pernah dipimpin oleh LA KILAPONTO. Tentu saja falsafa dasar dan konstitusi tersebut diadaptasi dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyrakat setempat dalam hal ini termasuk nilai-nilai Islam sebelum dijadikan sebagai Konstitusi Kerajaan. Sikap toleransi terhadap masuknya nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat local dan nilai- nilai agama yang positif merupakan strategi untuk menghindari konflik dan penolakan masyarakat terhadap ajaran itu. Misalnya Konsitusi pada Kerajaan / kesultanan Buton yang diproklamirkan pada masa Sultan Buton IV DAYANU IKSANUDDIN (1597- 1631 M) yang mesakukan nilai-nilai Islam. Konstitusi Kesultanan Buton itu dikenal dengan Martabat Tujuh. DAYANU IKHSANUDDIN adalah cucu LA KILAPONTO dari putrinya PARAMASUNI yang bersuamikan LA SIRIDATU.
Menurut A.E. saidi dalam makalahnya pada Simposium Internasionel Pernaskahan Nusantara IX di Baruga Keraton Buton 5 - 8 Agustus 2005, Martabat Tujuh di Undangkan oleh Sapati LA SINGGA pada tahun 1610 M di depan Masjid Agung Keraton. Inti dari Konstitusi Martabat Tujuh yaitu ; 1) Pomae-maeyaka; 2) Popiara-piara’ 3) Po maa-maasiaka. 4) Poangka-angkataka. Keempat nilai dasar dari Konstitusi martabat Tujuh memiliki makna yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Raja Muna VI SUGI MANURU pada tahun 1438 M. Demikian pula tatanan pemerintahan yang dianut kesultanan Buton seperti yang termuat dalam Martabat Tujuh juga merupakan sisten dan tatanan pemerintahan yang diterapkan oleh Kerajaan Muna sejak jaman SUGI MANURU Raja Muna VI ( Baca; Sugi Manuru ) .
Selain alhi di bidang Tata Negara, LAKILAPONTO juga piawai dalam bidang diplomasi serta ahli dalam strategi perang. Kemampuan diplomasi LA KILAPONTO dibuktikan dengan dapat mendamaikan konflik dua kerajaan besar di jazirah Pulau Sulawesi bagian Tenggara yaitu kerajaan Konawe dan Mekongga. Konflik kedua kerajaan tersebut telah berlangsung lama dan telah banyak menelan korban nyawa dan harta. Oleh LA KILAPONTO konflik tersebut diselesaikan hanya dalam waktu delapan hari, sehingga di kedua kerajaan tersebut LA KILAPONTO di beri gelar “HALUOLEO” yang artinya delapan hari. Karena sukses mendamaikan konflik tersebut, LA KILAPONTO dinikahkan dengan Putri Raja Konawe yang bernama ANAWAY ANGGUHAIRAH serta dinobatkan menjadi Raja Konawe.
Sebagai mana kerajaan-kerajaan kuno lainnya, LA KILAPONTO menjalankan strategi diplomasinya melalui perkawinan. Dalam beberapa sejarah ditulis selama hidupnya La Kilaponto melakukan perkawinan sebanyak 5 kali, berturut-turut putri yang dikawininya adalah :
1. WA TAMOIDONGI ( Putri Raja Buton V LA MULAE)
2. WA ANAWAY ANGGUHAIRAH ( Putri kerajaan Mekongga )
3. Putri raja Jampea
4. Putri Raja selayar OPU MANJAWARI
5. WA SAMEKA ( Putri Sangia YI TETE )
Dari masing-masing perkawinannya tersebut, LA KILAPONTO/SULTAN KAIMUDDIN KHALIFATUL KHAMIS/SULTAN MURHUM memperoleh putra dan putri yaitu :
1. perkawinan dengan WA TAMPOIDONGI tidak memperoleh anak
2. perkawinan dengan ANAWAI ANGGUHAIRAH memperoleh 3 orang puteri yaitu WA ODE POASIA, WA ODE LEPO-LEPO dan WA ODE KONAWE.
3. perkawinan dengan putri raja Jampae memperoleh 1 orang putera yang bernama LA TUMPARASI (Sangia Boleko)
4. perkawinan dengan putri raja Selayar memperoleh 1 orang putera yang bernama LA SANGAJI (Sangia Makengkuna)
5. Perkawinan dengan Wa Sameka memperoleh 4 orang puteri yaitu Paramasuni (istri LA SIRIDATU putra Raja Batauga), Wasugirampu (istri LA GALUNGA cucu Raja Buton V), WABUNGANILA (istri LA KABAURA putra raja Batauga) dan WABETA (istri LA SONGO raja Kambe-kambero)
Sedangkan kemampuan strategi perangnya dibuktikan saat menumpas pemberontak LA BOLONTIO yang berasal dari Tobelo. LABOLONTIO terkenal sakti dan sangat kejam sehingga Kerajaan Buton tidak mampu lagi menghadapinya. Raja Buton saat itu LA MULAE dan segenap rakyatnya telah putus asa sehingga memaksa dia membuat sayembara. Isi dari sayembara tersebut adalah ‘ barang siapa yang dapat menumpas pemberontakan Labolontio akan dikawinkan dengan salah satu putri Raja ’ yang bernama WA TAMPOIDONGI. WA TAMPOIDONGI terkenal sangat cantik dan menjadi rebutan petinggi-petinggi Kerajaan Buton dan kerajaan-kerajaan tetangga.
Sayembara yang dibuat oleh Raja Buton LA MULAE tersebut mengundang minat satria-satria di kerajaan tetangga untuk ambil bagian. Mereka sangat tertarik untuk mempersunting putrid Raja yang kecantikannya sudah terkenal di mana-mana. Salah seorang petinggi kerajaan tetangga yang mengikuti sayembara tersebut adalah Raja Selayar dan Raja Jampea.
Sudah sekitar satu tahun sayembara dibuka, para peserta sayembara telah mengeluarkan segala kemampuannya, namun tidak ada satupun dari satria-satria yang ikut dalam kompetisi tersebut yang dapat menumpas Labolontio. Bahkan Labolontio dan pasukannya semakin merajalela dan telah menguasai beberapa wilayah Kerajaan Buton . Bukan saja itu bahkan Labolontio sudah mengancam kerajaan-kerajaan tetangga Buton termasuk Kerajaan Muna.
Kabar semakin mengganasnya Labolontio dan pasukannya ikut meresahkan LAKILAPONTO yang baru saja dilantik menjadi Raja Muna VII. Olehnya itu LA KILAPONTO meminta saran dari Ayahandanya SUGI MANURU dalam menyikapi ancaman tersebut. Setelah mendengar masukan-masukan dari LAKILAPONTO dan beberapa petinggi kerajaan, SUGI MANURU Raja Muna VI menyarankan pada LA KILAPONTO untuk segera pergi ke Buton, menumpas LABOLONTIO sekaligus menyelamatkan Negeri Buton dari kehancuran. Jadi keikutsertaan LAKILAPONTO dalam menumpas LABOLONTIO bukan untuk mengikuti sayembara yang dibuka oleh Raja LA MULAE tetapi melakukan misi Kerajaan Muna untuk menyelamatkan Negeri Muna dari ancaman LABOLONTIO sekaligus menyelamatkan Negeri Buton.
Sesampainya di Buton dengan tanpa terlebih dahulu menghadap pada Raja LA MULAE, LA KILAPONTO langsung menyusuri pantai, mencari LABOLONTIO, orang yang telah yang membuat Raja Buton dan segenap rakyatnya kalang kabut dan tidak berdaya. Selain itu aksi yang dilakukan LABOLONTIO dalam melakukan terror pada kerajaan Buton juga meresahkan Kerajaan-kerajaan lain yang bertetangga dengan Buton termasuk Muna. Sebagai Raja yang lagi berkuasa di Kerajaan Muna LA KILAPONTO bertanggung jawab untuk segera menghentikan sepak terjang LABOLONTIO agar tidak meluas di Kerajaan Muna. Dalam hitungan hari saja LA KILAPONTO sudah menemukan LABOLONTIO hingga terjadi adu tanding.
Dalam pertarungan di pasisir Kerajaan Buton, LABOLONTIO di buat bertekuk lutut bahkan mati ditangan LA KILAPONTO. Sebagai bukti telah membunuh LABOLONTIO, LA KILAPONTO membawa kepala LA BOLONTIO di hadapan Raja Buton LAMULAE. Maksud LAKILAPONTO menghadap Raja LA MULAE adalah untuk menyampaikan bahwa Kerajaan Buton saat ini telah aman sebab pengacau keamanan telah berhasil di bunuhnya sekaligus berpamitan untuk pulang ke Muna meneruskan tugasnya sebagai Raja Muna. LA KILAPONTO tidak menuntut apapun dengan apa yang telah di lakukannya. LA KILAPONTO berpikir misinya menumpas LABOLONTIO selain membantu kerajaan Buton yang berada dalam ambang kehancuran, juga menjaga keamanan dan kedaulatan Kerajaan Muna dari gangguan pihak luar.
Lain dengan Raja Buton LA MULAE dan segenap rakyatnya, LA KILAPONTO oleh mereka dianggap telah berjasa menyelamatkan Kerajaan Buton dari gangguan keamanan. Untuk itu LABOLONTIO berhak mendapatkan hadia seperti isi dari sayembara yang telah dibuat Raja LA MULAE. Sebagai Raja, LAMULAE harus tetap konsisten menjalankan apa yang telah diucapkan. Untuk itu pernikahan antara LAKILAPONTO dan Putri Raja WA TAMPOIDONGI tetap harus dilaksanakan.
Dengan rasa berat dan penghargaan terhadap Raja Buton LAMULAE, akhirnya LAKILAPONTO menerimah untuk dinikahkan dengan putrid raja seperti isi sayembara yang di buat Raja LAMULAE. Namun demikian LA KILAPONTO tetap mengajukan syaraat bahwa setelah pernikahan dilaksanakan dia tetap kembali ke Kerajaan Muna untuk menjalankan tugasnya sebagai Raja Muna. Persyaratan itu diterimah dan pernikahan keduanya pun dilaksanakan. Setelah prosesi pernikahan dilaksanakan LA KILAPONTO langsung berpamitan untuk Kembali Ke Kerajaan Muna sedangkan isrinya di tinggal di Kerajaan Buton bersama Orang tuanya.
Belum cukup satu tahun Menjalankan pemerintahanya sebagai Raja Muna setelah menumpas LABOLONTIO, Raja Buton V LA MULAE meninggal dunia. Karena raja LA MULAE tidak memiliki anak Laki-laki, maka petinggi-petinggi Kerajaan Buton bersepakat untuk mengangkat LA KILAPONTO sebagai Raja Buton VI menggantikan LA MULAE. Kesepakatna para petinggi Kerajaan Buton tersebut kemudian di sampaikan pada LA KILAPONTO dengan cara mengutus beberapa utusan untuk datang ke kerajaan Muna. Awalnya LA KILAPONTO merasa sangat berat menerima kesepakatan yang telah dibuat oleh para petinggi Kerajaan Buton untuk menjadi Raja di kerajaan Buton, karena saat itu LA KILAPONTO sedang menjadi raja di kerajaan Muna dan Kerajaan Konawe.
Atas saran Ayahandanya dan melalui pertimbangan yang matang, akhinya LA KILAPONTO mau menerima untuk menjadi Raja di Kerajaan Buton. Dengan diterimahnya menjadi Raja Buton, maka secara otomatis pada saat itu LA KILAPONTO menjadi Raja di tiga kerajaan besar di Sulawesi Tenggara yaitu Kerajaan Buton, Kerajaan Muna dan Kerajaan Konawe, karena itulah oleh masyarakat Muna LA KILAPONTO mendapat gelar Omputo Mepokonduaghoono Adhati’ artinya orang yang mengawinkan adat.
Pada sebuah hikayat disebutkan, saat LA KILAPONTO menjadi Raja di Kerajaan Muna, Buton dan Konawe, kerajaan-kerajaan lainya yaitu Kerajaan kaledupa, Kerajaan Mokole dan Mekongga ikut menggabungkan diri dibawa kekuasaan LA KOLAPONTO, sebagai mana kutipan berikut ‘Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian Negeri, karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di Alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 ).
Selama tiga tahun LAKILAPOTO menjadi raja di lima kerajaan tersebut, nilai-nilai Islam yang seberbakan seorang Ulama dari Arab SYEKH ABDUL WAHID dan di bantu seorang imam dari Patani yang bernama FIRUS MUHAMMAD mulai mempengaruhi istana Kesultanan Buton. Setelah Islam diterima di Istana dan LAKILAPONTO telah memeluk Islam, maka pemerintahan Buton berubah menjadi kesultanan dan LAKILAPONTO dilantik menjadi Sultan dengan bergelar Sultan MURHUM/ SULTAN KAIMUDDIN KHALIMATUL KHAMIS.
Menyusul berubahnya Buton menjadi Kesultanan (948 H/ 1542 M ), LAKILAPONTO kemudian menyerahkan jabatannya pada kerajaan-kerajaan lainnya. Misalnya di Kerajaan Muna, LAKILAAPONTO menyerahkan jabatannya kepada adiknya LA POSASU untuk menjadi Raja Muna VIII. sedangkan dikerajaan-kerajaan lainnya tidak ada data yang pasti bagai mana proses penyerahannya. Namun yang pasti pada saat itu juga Kerajaan Konawe dan kerajaan-kerajaan lainya yang pernah di pimpin LAKILAPONTO telah memiliki raja sendiri-sendiri. Walaupun LAKILAPONTO pernah memimpin kerajaan-kerajaan tersebut, namun setelah dia melepaskan jabatannya, LAKILAPONTO tetap mengakui kerajaan-kerajaan tersebut sebagai Negara merdeka dan berdaulat.
Setelah LAKILAPONTO Menjadi SULTAN di Kesultanan Buton dan adiknya LA POSASU menjadi Raja Muna VIII, kedua bela pihak mengadakan perjanjian. Isi dari perjanjian tersebut adalah wilayah kerajaan Muna bagian Selatan yang terdiri dari Mawasangka dan GU diserahkan ke Buton. Sebagai gantinya, Wialayah pesisir Barat Buton bagian Utara yaitu Wakorumba dan Kambowa diserahkan pada Muna. Termasuk dalam perjanjian itu kesepakatan untuk saling membantu dan bekerja sama bila kedua kerajaan menghadapi situasi pelik, termasuk ancaman dan intervensi dari luar ( La kimi- Sejarah Muna, Jaya pres Raha).
Hubungan persaudaraan di antara kedua Kerajaan- kerjajaan yang pernah dipimpin oleh LA KILAPONTO, terjalin hangat selama kurang lebih 3,5 abad. Namun, Setelah Kesultanan Buton bekerja sama dengan Kolonial Belanda dan dalam kerangka politik pecah belah, pemerintah kolonial Belanda bersama Sultan Buton LA ODE FALIHI, secara sepihak membuat perjanjian yang disebut Korte Verklaring pada 2 Agustus 1918 (Jules Couvreur , Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna- Artha Wacana Press, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 2001).
Perjanjian sepihak tersebut tidak pernah diakui oleh Raja Muna. perlawanan terhadap perjanjian Korte Verklaring ditunjukan oleh raja Muna LA ODE DIKA gelar OMPUTO KOMASIGINO yang tidak mematuhi perjanjian tersebut termasuk membayar pajak kepada Sultan Buton seperti yang diatur dalam perjanjian Korte Verklaring . Raja Muna LA ODE DIKA juga tidak mau tunduk saat bertemu dengan Sultan Buton. Bahkan LA ODE DIKA mengangkat telunjuknya seakan mengancam saat bertemu dengan Sultan Buton di Istana Sultan Buton. Sikap Raja LA ODE DIKA tersebut oleh Sultan Buton di adukan kepada penguasa colonial Belanda di Makassar. Akibatnya LA ODE DIKA di pecat kemudian penguasa colonial Belanda di makkasar menunjuk LA ODE PANDU sebagai Raja Muna menggantukan LA ODE DIKA.
LA KILAPONTO / SULTAN MURHUM / SULTAN KAIMUDDIN KHALIFATUL KHAMIS Putra Raja Muna SUGIMANURU Yang Agung mengakhiri masa pemerintahannya di Kesultanan Buton karena wafat tahun 1584 setelah memerintah lebih kurang 46 tahun ( sebagai raja Buton VI selama 3 tahun dan sebagai Sultan I selama 43 tahun ), dan menjadi Raja Muna selama tiga tahun ( (1488- 1491 M ),. Setelah LA KILAPONTO / SULTAN MURHUMIN / SULTAN KAIMUDDIN KHALIFATUL KHAMIS meninggal dunia, Sara Kesultanan Buton memilih LA TUMPARASI (Sangi Boleka) Putranya dari perkawinannya dengan Putri Raja JAMPEA ( Suku Bajo ? ) sebagai sultan Buton II dan dilantik pada tahun itu juga.




 
    Web blogdetik