Muna.Com
Just another Blogdetik.com weblogSUGI MANURU RAJA MUNA VI ‘OMPUTO MEPASOKINO ADHATI’
SUGI MANURU, RAJA MUNA KE VI ‘ OMPUTO MEPASOKINO ADHATI’
Walaupun pada masa Pemerintaha SUGI MANURU Islam baru diperkenalkan oleh para pedagang dari gujarad Persia dan Patani di Kerajaan Muna serta SUGI MANURU sendiri belum memeluk islam, namun sepertinya SUGI MANURU telah memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dilihat saat membagi Kerajaan dalam empat wilayah besar yang disebut dengan Ghoera yaitu Ghoerano Tongkuno, Ghoerano Lawa, Ghoerano Katobu. Empat wilayah tersebut di ibaratkan sebagai berikut;
Ø Tongkuno di ibaratkan asal api hurufnya alif.
Ø Lawa di ibaratkan asal angin hurufnya ha.
Ø Kabawo di ibaratakan asal air huruf nya mim.
Ø Katobu di ibaratkan asal tanah huruf nya dal.
Pengibaratan tersebut bertitik tolak pada hakikat manusia yang memiliki sifat api, angin,air dan tanah.
1. Sifat api adalah menggambarkan manusia yang memiliki emosi. Sebagaimana Api, emosi ini kalau dikelola dengan baik akan member manfaat bagi banyak orang, tapi kalau tidak terkontrol maka akan menyebabkan kehancuran yang besar.
2. Sifat angin adalah menggambar manusia yang memiliki ambisi. Ambisi yang dimiliki setiap manusia itu bagaikan senjata. Kalau ambisi berada pada orang yang baik maka ambisi itu akan diarahkan pada hal-hal yang positif dan menjadi motifasi untuk mencapai kesuksesan dengan cara-cara yang benar. Tapi kalau berada pada orang yang tidak baik maka akan diarahkan pada ha-hal yang negative bahkan kadang menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang di cita-citakaan.
3. Sifat air menggambarkan sifat manusia yang tenang selalu memberikan kesegaran dan kesejukan serta menghilangkan dahaga. Namun demikian kalau pengelolaan dan penggunaanya dilakukan dengan cara yang tidak baik dan tidak benar, maka akan menjadi petaka. Air juga memiliki sifat selalu mengalir ditempat yang lebih rendah, maksudnya manusia harus memiliki sifat rendah hati, tidak sombong walau memiliki kekuatan yang besar. Hal yang paling pokok adalah sifat air yang selalu mengikuti bentuk wadahnya, ini artinya manusia harus dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi dimana dia berada.
4. Sifat Tanah diibaratkan sebagai sifat manusia yang sabar dan tidak menuntut imbalan atas segalah sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan orang lain. Hal ini dapat dilihat dari sifat tanah yang selalu sabar walalupun telah menumbuhkan tanaman sebagai sumber kehidupan manusia, walaupun telah menyediakan tempat untuk berpijak manusia dia tidak menuntut. Bahkan ketika diinjak dan diberaki tanah tidak pernah marah.
Begitu bijaksananya, sehingga dalam melakukan pembagian wilayah pun SUGI MANURU melakukan pengandaian dengan hakikat penciptaan manusia.
Disebutkan pula bahwa SUGI MANURU yang menetapkan pembagian golongan di Kerajaan Muna. Adapun golongan itu adalah Kaoumu, Walaka, Olindo Fitu Bangkaono,dan Wawono Liwu. Yang secara hakikat dapat pula dikatakan bahwa susunan golongan-golongan itu di ibaratkan sebagaai struktur raga manusia yaitu :
Ø Okaomu di ibaratkan kepala manusia huruf nya mim awal.
Ø Owalaka di ibaratkan badan manusia huruf nya Ha.
Ø Olindo Fitu bangkauno di ibaratkan perut hurufnya mim akhir.
Ø Owawono Liwu di ibaratkan kaki hurupnya Dal.
Inilah yang dikatakan pengendali dan yang dikendali. Kaomu dan Walaka adalah mitra kerja yang mengendali, Olindo Fitu Bangkauno serta Wawono Liwu adalah sumber daya manusia dan sumber daya alam, bakalan yang akan di atur.
Inilah yang dikatakan rahasia wawasan negeri pengertian SOWITE ( untuk tanah air ), yang kemudian diuraikan dalam implementasinya dalam praktek“ Koemo Bhada Sumanomo Liwu, Koemo Liwu Sumanomo Sara, Koemo Sara Semanomo Oadhati, Koemo Oadhati Sumanomo Agama”, artinya ; Rela mengorbankan Jiwa dan raga demi bangsa dan negara, Tegakkan Hukum walaupun bumi runtuh, kalaupun hukum tidak berjalan, adat istiadat tetap harus dipertahankan, Kalaupun adat istidat sudah tidak memberi arah, nilai-nilai, agama yang akan dijadikan pegangan.
Inilah yang dikatakan rahasia wawasan negeri pengertian SOWITE ( untuk tanah air ), yang kemudian diuraikan dalam implementasinya dalam praktek“ Koemo Bhada Sumanomo Liwu, Koemo Liwu Sumanomo Sara, Koemo Sara Semanomo Oadhati, Koemo Oadhati Sumanomo Agama”, artinya ; Rela mengorbankan Jiwa dan raga demi bangsa dan negara, Tegakkan Hukum walaupun bumi runtuh, kalaupun hukum tidak berjalan, adat istiadat tetap harus dipertahankan, Kalaupun adat istidat sudah tidak memberi arah, nilai-nilai, agama yang akan dijadikan pegangan.
Tingkatan masyarakat di klasifikasikan struktur masyarakat di kerajaan muna yang di ajarkan SUGI MANURU tersebut disusun menurut turunan nya yaitu :
1. Golongan Kaomu. Golongan ini bersumber dari anak laki-laki Sugi Manuru yang berasal dari permaisuri. Kaomu adalah goloangan teratas yang berhak menduduki jabatan Raja Muna dan Jabatan-Jabatan lain yang sesui dengan hukum adat (kekuasaan eksekutif).
2. Golongan Walaka. Golongan ini bersumber dari anak Perempuan Sugi Manuru yaitu Wa ode pago yang kawin dengan La Pokainse anak Mino Wamelai. Walaka adalah golongan yang berhak dan memiliki kuasa dalam mengangkat Raja Muna, memegang kekuasaan menetapkan hukum hukum adaat dan mengawasi pelaksanaannya ( kekuasaan legislatif ).
3. Goloangan Wawono Liwu. Goloangan ini terbagi atas tiga tingkatan
golongan Wawono Liwu Ghoera atau Fitu Bengkauno, bermula dari anak 7 orang laki-laki Sugi Manuru dari istri selir. Golongan ini berhak untuk menjadi kepalah pemerintahan Ghoera yaitu (kekuasaan Pemerintah daerah);
1) Ghoerano Tongkuno
2) Ghoerano Kabawo
3) Ghoerano Lawa
4) Ghoerano Katobu
4. Golongan Wawono Ghaoera Papara yaitu turunan dari ke 4 Kamokulano dahulu yaitu; Kamokulano Tongkuno, Kamokulano Barangka, Kamokulano Lindo, Kamokulano Wapepi.
5. Golongan Poino Kontu Lakono Sau. Golongan ini adalah golongan Wawono Liwu yang terendah, ibarat sebuh batu dan sepotong kayu didalam masyarakat Kerajaan Muna. Mereka ini turunan dari ke empat Mino yaitu; Mino Kaura,Mino Kasintala,Mino Limbo,dan Mino Ndoke.
Penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin dimasing-masing tingkatan dan golongan ditentukan oleh Sara berdasarkan kapasitas masing-massing indifidu. Pengangkatannya berdasarkan hasil rapat dewan adat yang berasal dari golongan Walaka.
Selain Menyusun tingkatan golongan masyarakat, SUGI MANURU juga menetapkan struktur pemerintahan kerajaan. Struktur pemerintahan kerajaan pada jaman SUGI MANURU adalah ;
1. Raja (Eksekutif), dari Golongan Kaomu
2. Bonto ( Legislatif ), dari golongan walaka
3. Mintarano Bhitara ( Yudikatif ), dari golongan Walaka ( No 1- 3 adalah pemerintah pusat )
4. Mowano Ghoera ———— pemerintahan setingkat dibawah pemerintah pusat
5. Kamokula & Mieno ————- setingkat dibawah Ghoera
Pada masa Pemerintahan Raja Muna IX TITAKONO struktur golongan masyarakat Muna ditambah dengan golongan wesimbali. Golongan Wasembali adalah goloangan yang timbul karena perkawinan antara dua golongan yang sebenar nya dilarang dalam hukum adat. Pada zaman dahulu wanita Kaomu dan Walaka pantang menikah dengan goloangan Lakono sau poino kontu. Golongan Wesimbali ini terbagi lagi menjadi dua yaitu ;
1. Golongan La Ode Wesimbali, yaitu turunan dari wanita kaumu dengan laki-laki wawono liwu. Derajat dari La Ode Wasembali dijadikan setara dengan Golongan Walaka, tetapi tidak boleh menduduki jabatan seperti golongan Walaka.
2. Golongan Walaka Wesimbali, yaitu keturunan dari wanita kaomu laki-laki dari golongan Wawono Liwu. Walaka Wasembali di sejajarkan dengan derajatnya Anangkolaki (fitu bengkauno) tetapi jug tidak dapat mendudukuki jabatan seperi golongan Angkolaki.
Raja Muna Titakono juga mengadakan perubahan pada struktur pemerintahan. Dalam Rapat Agung Kerajaan di hadiri oleh Raja, 4 Mino, 4 kamokula diangkat Pejabat Bantobalono. Banto Balano yang pertama adalah La Marati, anak dari Wa Ode Pogo hasil perkawinanya dengan La Pokaise.
Setelah La Ode Saaduddin naik tahta, dibentuk pula dua jabatan baru dalam Kerajaan Muna yaitu:
2. Kapita Lao, yang bertugas menjaga keamanan pantai dari serangan luar dan bajak laut, Kapita sebagai panglima angkatan bersenjata. Kapita Lao ada 2 orang yaitu Kapita Lao Mataholeo dan Kapita Lao Kansopa.
Dari semua Kino yang ada tidak semua Kino dapat diangkat menjadi Kapita Lao dan Kapita. Diantara 26 kino yang juga disebut Kino Babato terdapat beberapa Kino yang mempunyai kekuasaan yaitu :
1. Babato Aluno yaitu Kino Tobea
Kino Labora
Kino Lakologau
Kino Mantobua
Kino Lagadi
Kino Watumela
Kino Lasehao
Kino Kasaka.
2. Kino Barata yaitu Kino-Kino yang bertugas menajaga pantai kerajaan, yang terdiri dari;
Kino Wasolangka
Kino Lohia
Kino Lahontohe
dan Kino Marobea.
Dengan demikian maka Dewan Kerajaan terdiri dari;
Raja
Bonto Balano
Mintarano Bhitara
Kapita Lau 2 orang
Kapita 1 orang
Koghoerano 4 orang
Fatolindono 4 orang.
2. Kapita Lao, yang bertugas menjaga keamanan pantai dari serangan luar dan bajak laut, Kapita sebagai panglima angkatan bersenjata. Kapita Lao ada 2 orang yaitu Kapita Lao Mataholeo dan Kapita Lao Kansopa.
Dari semua Kino yang ada tidak semua Kino dapat diangkat menjadi Kapita Lao dan Kapita. Diantara 26 kino yang juga disebut Kino Babato terdapat beberapa Kino yang mempunyai kekuasaan yaitu :
1. Babato Aluno yaitu Kino Tobea
Kino Labora
Kino Lakologau
Kino Mantobua
Kino Lagadi
Kino Watumela
Kino Lasehao
Kino Kasaka.
2. Kino Barata yaitu Kino-Kino yang bertugas menajaga pantai kerajaan, yang terdiri dari;
Kino Wasolangka
Kino Lohia
Kino Lahontohe
dan Kino Marobea.
Dengan demikian maka Dewan Kerajaan terdiri dari;
Raja
Bonto Balano
Mintarano Bhitara
Kapita Lau 2 orang
Kapita 1 orang
Koghoerano 4 orang
Fatolindono 4 orang.
Pada Pemerintaha Raja La Ode Huseni ( Sangia Latugho ) terjadi reformasi pada struktur pemerintahan dan struktur masyarakat. Tuajuannya adalah agar setiap golongan mempunyai andil dan fungsi dalam roda pemerinttahan. Selain itu dimaksudkan akan roda pemerintahan dapat berjalan secara efektif.
.
Perangkat Pejabat Kerajan Muna pada masa Raja La Ode Husaini adalah :
Perangkat Pejabat Kerajan Muna pada masa Raja La Ode Husaini adalah :
1. Dari golongan Kaomu berjumlah 20 orang yaitu;
Ø Raja Muna
Ø Seorang kapita
Ø Dua orang kapita lau
Ø Bobata 8 orang
Ø Barata 4 orang
Ø Kino Agama 1 orang
Ø Imam 1 orang
Ø Hatibi 2 orang.
2. Sedangkan Pejabat Kerajaan dari golongan Walaka berjumlah 10 orang yaitu;
Ø
Banto balano 1 orang
Banto balano 1 orang
Ø Mintarano bhitara 1 orang
Ø Koghoerano 4 orang
Ø 4 lindono.
Ø Perangkat Pejabat dalam Kerajaan khusunya golongan Lindo dan Fitu Bangkauno berjumlah 7 orang. Perangkat kerja Raja Muna khususnya Wawono Liwu bwrjumlah 3 orang. Mitra kerja raja muna yang mengatur dan di atur disebut manusia awal.
Di masa pemerintahan Raja Muna La ode Huseni, dalam tatanan adat istiadat masyarakat Muna yang menyangkut soal akad nikah di tetapkan mahar menurut golongan masing-masing sebagai berikut;
Ø Untuk maharnya goloangan Kaomu 20 boka.
Ø Mahar golongan Walaka 10 boka 10 suku.
Ø Maharnya Lindo dan Fitu Bangkano 7 boka 2 suku;
Ø Maharnya Wawono Liwu 3 boka 2 suku
Inilah hubungan antara golongan yang sukar dipisakan dan dihilangkan karena mempunyai hikmah yang mengadung makna menjurus pada poadja-adjati, poangka-angkatao, popia-piara dan pomao-maoloho, yang menjadi landasan idiologi SOWITE.
Karena jasanya dalam menyempurnakan struktur Kerajaan, masyarakat dan adat tersebut, dikalangan masyarakat Muna La Ode Husaini di kenal sebagai “ Nembali Kolakino Wuna Nofotoka Bhesarano. Poentauno Alamu Popano, Malaikati Popano,Bhe Badhano Manusia, Bhewite”. Yang artinya kira-kita La Ode Huseni dinobatkan menjadi Raja Muna lengkap dengan skturtur pemerintahan serta perangkat-perangkat jabatan yang semua bernuansa religius atau ke agamaan. Yakni agama Islam.
Pada tahun 1910 ketika pemerintah Belanda menjajah Indonesia dan memasuki Pulau Muna ,tatanan kehidupan masyarakat Muna mengalami kesenjangan namun seperti semboyan
“ Koemo Bhada Sumamo Liwu, Koemo Liwu Sumamo Sara, Koemo Sara Semanumo Oadhati, Koemo Oadhati Sumamo Agama”
Hingga saat ini tatanan adat istiadat menurut golongan masing-masing masih tetap berlaku di Masyarakat Muna walaupun sebahagian masyarakatnya tergolong modern dan berpendidikan tinggi bahkan menjadi pejabat tinggi di pemerintahan tetap tidak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan
“ Koemo Bhada Sumamo Liwu, Koemo Liwu Sumamo Sara, Koemo Sara Semanumo Oadhati, Koemo Oadhati Sumamo Agama”
Hingga saat ini tatanan adat istiadat menurut golongan masing-masing masih tetap berlaku di Masyarakat Muna walaupun sebahagian masyarakatnya tergolong modern dan berpendidikan tinggi bahkan menjadi pejabat tinggi di pemerintahan tetap tidak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan
| Web | blogdetik |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar