Selasa, 29 Maret 2011

ASAL USUL PULAU MUNA


ASAL USUL PULAU MUNA

liangkobori1Muna pada awalnya dikenal dengan nama WUNA yang berati bunga. Nama itu    memberi makna spiritual kepada kejadian alamnya,dimana terdapat gugusan batu yang berbunga. Gugusan batu tersebut  seakan-akan batu karang yang ditumbuhi rumput laut.  Gugusan batu tersebut terletak di  dekat Masjid  tua Wuna di Kota Muna yang bernama bahutara ( bahtera?). Saat ini Muna dikenal sebagai nama sebuah Pualau dan Kabupaten  di Sulawesi tenggara. Sebelum menjadi Kabupaten, Muna dikenal sebagai sebuah kerajaan yang berkedudukan di Pulau Muna bagian Utara dan Pulau Buton bagian Utara. Pembagian wilayah tersebut dilakukan pada masa Pemerintahan Raja Buton VI Lakilaponto dan Raja Muna VIII La Posasu. Kedua raja tersebut merupakan kakak beradik,  Putra Raja Muna VI  Sugi Manuru. Sebelum menjadi raja Buton VI, La ilaponto merupakan raja Muna  VII, namun setelah dilantik menjadi Raja Buton, jabatan Raja pada kerajaan Muna diserahkan pada adiknya La Posasu. Bersamaan dengan penyerahan kekuasaan tersebut, dibagi pula wilayah kerajaan sebagaimana tersebut diatas.
Banyak kisah yang menceritakan asal usul Muna Sebagai sebuah pulau, baik itu itu tradisi lisan dikalangan masyarakat Muna maupun hikayat yang ditulis oleh masyarakat Buton. Namunn secara ilmiah belum ada penelitian yang mengungkap asal usul Pulau Muna. Berdasarkan fakta tersebut, akhirnya tradisi lisan masyarakat dan hikayat yang ditulis oleh masyarakat Butonlah yang menjadi referensi para penulis dalam menulis sejarah Muna dan Buton.
Dikisahkan dalam Hikayat  “Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wa Daarul Munajat”(Hakikat Kejadian Negeri Buton dan Negeri Muna- Buku Tambaga ) bahwa Pulau Muna dan Pulau Buton berasal dari segumpal tanah yang muncul dari dasar laut. Hikayat tersebut menceritakan  bahwa ketika Nabi mengadakan rapat dengan para sahabat, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan yang maha dasyat.  Mendengar suara tersebut salah seorang sahabat bertanya apa gerangan yang sedang  terjadi. Pertanyaan sahabat itu dijawab oleh  Nabi bahwasanya disebelah timur telah muncul dua buah Pulau ( Wuna& Buton )  yang mana penghuninya nantinya akan menjadi pemeluk agama Islam yang taat. Olehnya itu diutuslah dua orang yakni Abdul Sukur dan Abdul Gafur untuk menemukan pulau dimaksud sekaligus menyebarkan agama islam. Dalam pencarian sebuah negeri sebagaimana yang di wasiatkan oleh Rasulullah SAW, kedua utusan tersebut menemukan dua buah pulau ( ditemukan dalam arti hakiki ) yaitu Pulau Wuna ( Muna) dan Pullau Buton. Setelah kedua utusan tersebut menemukan negeri dimaksud ,maka ditancapkanlah sebuah bendera. Hal ini pula yang dilakukan di Negeri Buton dan Negeri Muna.
Cerita lainya yang mengisahkan asal mula Pulau Muna adalah seperti yang dituturkan dalam tradisi lisan masyarakat Muna. Tradisi lisan tersebut  telah menjadi referensi penulis sejarah Muna untuk menceritakan asal mula Pulau Muna, Dalam tradisi lisan itu   dikisahkan bahwa Pulau Muna ditemukan oleh Sawerigading pelaut dari kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan dan pengikutnya sebanyak 40 orang  yang terdampar di sebuah wilayah yang saat ini bernama BAHUTARA. Terdamparnya Kapal Swaerigading tersebut akibat munculnya pulau dari dasar laut.  Bukti terdamparnya kapal sawerigading tersebut adalah adanya sebuah bukit yang menyerupai sebuah kapal lengkap dengan kabin-kabinnya. Bukit yang menyerupai kapal tersebut diyakini oleh masyarakat Muna sebagai fosil dari Kapal  Sawerigading yang terdampar tersebut. Ditutur kan pula pengikut Sawerigading yang berjumlah 40 orang tersebut kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Muna.
Kisah seperti yang diceritakan  hikayat  “Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wa Daarul Munajat”  mengenai  asal mula Pulau Muna dan Pulau Buton  diatas secara ilmia  tidak dapat dipertanggungjawabkan, sebab masa kerasulan Nabi Muhammad SAW di mulai setelah beliau berusia 40 tahun atau sekitar tahun 700-an M. jadi kalau mengacu pada buku “Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wa Daarul Munajat” berarti umur pulau Muna dan Pulau Buton baru sekitar 1300 tahun. Demikian juga dengan tradisi lisan masyarakat Muna tentang asal usul Pulau muna sangat sulit untuk di buktikan kebenarannya secara ilmiah. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk dijadikan refensi tentang asal usul pulau muna adalah epik I Lagaligo dimana Putera raja Luwu Sawerigading yang melegenda melakukan pelayaraan untuk dipisahkaan dengan kekasihnya Wa Tandriabeng  yang juga saudara kembarnya. Dikisahkan dalam epik I Lagaligo bahwa menurut adat masyarakat Luwu hubungan antara Sawerigading dan Wa Triabeng ( Saudara kembar ) tidak dibolehkan. Olehnya itu keduanya harus diisahkan.
Referensi yang dapat dipertnggung jawabkan secara ilmiah adalah hasil penelitian yang tersimpan di museum karts Indonesia  yang terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Menurut hasil penelitian tersebut,  Pulau Muna sudah ada jutaan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan oleh bebatuan yang tersusun oleh batu gamping berumur Pleistosen (sekitar 1,8 juta tahun yang lalu). Batu gamping ini diperkirakan dari Formasi Wapulak ( Museum Karts Indonesia ).
Pulau Muna sebagai mana yang dapat dilihat pada museum karts Indnesia tersebut tersusun dari batu gamping yang terbentuk dari batu  karang. Batu gamping ini merupakan terumbu karang yang terangkat dan sekarang membentuk kawasan kars yang luas. Itu artinya bahwa pulau Muna sebelumnya adalah terumbu karang yang ada didasar lautan, namun karena desakan dari bawah maka terumbu karang terseebut muncul dipermukaan dan menjadi sebuah pulau. Bukti kuat dari itu adalah sebuah wilayah disekitar Kota Muna lama dimana ada hamparan batu karang yang pada saat-saat tertentu mengeluarkan tunas-tunas seperti terumbu karang didasar laut, namun warna agak berbeda yaitu putih. Tempat itu dikenal dengan Kontu Kowuna yang artinya batu berbbunga.
Referensi lainnya yang dianggap ilmiah adalah situs purba berbentuk relief yang ada di  gua Liangkobori dan gua Metanduno. Relief  yang terdapat  di dinding gua tersebut menggambarkan kehidupan dan peradaban masyarakat Muna pada jaman purba. Relief  tersebut menurut beberapa penelitian telah berumur lebih dari  3000 tahun. Itu artinya bahwa jauh sebelum itu Pulau Muna telah ada dan telah di huni oleh manusia.
Bukti lainnya adalah struktur tubuh  Suku Muna atau Wuna yang mendiami Pulau Muna. Bila dilihat dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal)  Suku Muna berbeda dengan suku-suku yang ada di daratan Sulawesi ( Mongoloid ) dan Pulau Buton ( Melayu ), Orang Muna asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu atau Mongoloid. Hal ini diperkuat dengan kedekatannya dengan tipikal manusianya dan kebudayaan yang memiliki kemiripan dengan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya. Motif sarung tenunan di NTT dan Muna sangat mirip yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna dasar seperti kuning, hijau, merah, dan hitam. Bentuk ikat kepala juga memiliki kemiripan satu sama lain.Bahkan  Orang Muna juga memiliki kemiripan fisik dengan suku Aborigin di Australia.  
Menurut La Kimi Batoa dalam bukunya ‘Sejarah Muna’ terbitan  Jaya Press Raha   bahwa penduduk asli Pulau Muna adalah O Tomuna dan Batuawu. O Tomuna memiliki ciri-ciri  berkulit hitam, rambut ikal tinggi badan antara 160- 165 Cm. Ciri-ciri ini merupakan cirri-ciri umum suku-suku malanesia dan Australia . Suku-suku ini di Indonesia mendiami wilayah Irian dan Australia ( suku Aborigin). Sedadangkan Batuawu  berkuit Coklat  beraambut ikal dan tinggi tubuh berkisar 150-160 Cm.Postur tubuh seperti ini merupakan ciri-ciri yang dimiliki suku-suku  Polynesia yang  mendiami Pulau Flores dan Maluku. Suku asli Muna menggunakan Bahasa muna sebagai bahasa sehari-hari.
Suku asli Muna ( O Tomuna & Batuawu ), Menghuni Pulau Muna sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan selain menghuni Pulau Muna  juga menjadi menghuni sebagaian Pulau Buton dan Pulau-Pulau kecil lainnya seperti Pulau Talaga, Kadatua dan Pulau Siompu. Penyebaran Suku asli Muna di Pulau Buton dan pulau-pulau lainya di Sulawesi Tenggara itu dapat dilihat dari bahasa yang digunakan, bentuk tubuh dan warna kulit  masyarakatnya. 
Disebagian besar masyarakat yang  menghuni pulau Buton seperti yang ada di Kecamatan kambowa, Bonegunu, Wakorumba ( Kab. Buton Utara ), Wakorumba Selatan, Maligano, Pasir Putih ( Kab. Muna ), Kapontori, Lasalimu, Batauga, kamaru ( Kab. Buton), Kec, Bungi, Sirawolio dan Betoambari ( Kota Baubau ) masyarakatnya menggunakan bahasa Muna sebagai bahasa sehari-harinya. Demikian juga dengan Pulau-Pulau,  Siompu, Talaga dan Kadatua yang masuk dalam wilayah administrassi pemerintah Kabupaten Buton saat ini,  masyarakatnya juga menggunakan bahasa Muna sebagai media komunikasi diantara mereka. Masyarakat Buton saat ini lebih sering menyebut Suku, Bahasa dan Pulau Muna dengan sebutan  Pancana ketimbang Muna. Hal ini mengacu pada Hikayat Lagaligo yang menyebut Pulau Muna dengan sebutan Pancana.
Dalam hikayat  Mia Patamiana,  dikisahkan bahwa pada saat Armada  Simalui yang berjumlah 40 orang  mendarat di sebelah Timur Laut Negeri Buton ( diperkirakan disekitar Kamaru ) pada tahun 1236 M, mereka bertemu dan berbaur dengan masyarakat local kemudian  membentuk sebuah pemukiman. Selain itu mereka juga membuat benteng sebagai pertahanan dari serangan dari luar. Demikian juga dengan armada Mia Pata Miana yang lain ( Sipanjonga, Sijawangkati dan Sitamanjo), pada saat mendarat di suatu wilayah mereka langsung berbaur dengan masyaarakat Lokal yang menggunakan bahasa Pancana ( Muna ) sebagai bahasa tutur mereka. Ini diperkuat dengan  masih dipertahankannya  bahasa Muna ( Pancana ) sebagai bahasa tutur  dimana  Wilayah-wilayah pendaratan armada Mia Patamiana tersebut. Dari fakta ini dapat di asumsikan bahwa jauh sebelum Mia Patamiana mendarat di negeri Buton, Suku asli Muna telah menjadi penghuni Pulau Buton dan suku asli Muna bersama dengan Mia Patamiana dan pengikutnya turut berperan aktif membangun peradaban di Negeri buton, termasuk menjadikan Buton sebagai sebuah kerajaan.
Dari diskripsi diatas maka dapat dikatakan bahwa terdamparnya  kapal Sawerigading  bukan sebagai awal  munculnya Pulau Muna. Demikian pula dengan Pengikut Sawerigading yang dikisahkan berjumlah 40 orang bukan sebagai manusia pertama di Pulau Muna, karena  sebelumnya  pulau Muna telah ada dan telah berpenghuni. Hanya saja peradaban dan kebudayaaan  mereka masih sangat tradisional.  Penduduk asli Pulau Muna saat itu masih mendiami gua-gua yang memang banyak terdapat di Pulau Muna sebagai tempat tinggal mereka. Kehidupan mereka masih sangat tergantung dengan alam. Mereka hidup dari berburu hewan dan memetik langsung makanan dari alam. Penduduk asli Pulau Muna belum mengenal bercocok tanam.
Diperkirakan peradaban dan kebudayaan Suku asli Pulau Muna mulai berkembang setelah berbaur dengan  empat puluh orang pengikut Sawerigading yang ditinggal di Pulau Muna setelah terdampar di Bahutara.   Setelah pengikut Sawerigading yang berjumlah empat puluh orang tersebut  berbaur  dengan penduduk asli yang lebih dahulu mendiami Pulau Muna kemudian membentuk koloni. Lama kelamaan koloni tersebut menjadi suatu kampong dan mengankat pemimpin diantara mereka yang diberi gelar Kamokula ( yang dituakan).
Dengan perkembangan penduduk akhirnya di lakukan pemekaran sehingga menjadi 8 buah negeri,masing-masing 4 di kepalai oleh Meino dan 4 negeri lagi dipimpin oleh Kamokula. Adapun 4 Mieno adalah Sebagai berikut:
1.Mieno Kuara
2.Mieno Kansitala
3.Mieno Lembo
4.Mieno Ndoke.
Dan yang 4 kamokula adalah sebagai berikut:
1.     Kamokulano Tongkuno
2.     Kamokulano Barangka
3.      Kamokulano Lindo
4.      Kamokulano Wapepi.
liangkobori
 
    Web blogdetik 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar