Senin, 28 Maret 2011

indosiar.com, Buton - Pulau Buton. Nama yang selalu dihubungkan dengan pertambangan aspal alam. Tak banyak yang tahu, di pulau ini ada satu kesultanan, yang berperan mengisi sejarah Indonesia. Juga tak tercantum dalam buku pelajaran sejarah sekolah dasar. Kesultanan Buton seakan berdiri sendiri, diluar hiruk pikuk pentas sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia.


Datanglah ke Kota Bau-bau. Di kota kecil inilah komplek Kesultanan Buton berada. Terletak di puncak bukit dan menghadap ke Selat Buton. Penduduk setempat menyebutnya keraton. Aura kemegahannya masih terasa nyata.
Dari arah laut, tiang bendera setinggi dua puluh satu meter, adalah tanda pertama yang akan terlihat oleh kapal yang datang. Tiang megah dari kayu jati ini didirikan tahun 1712 tepat dihalaman depan benteng. Seolah memberi isyarat, anda sedang memasuki wilayah kota raja. Di tiang ini juga pernah dikibarkan bendera kerajaan Belanda, Jepang sebelum akhirnya dikibarkan sang merah putih.
Kerajaan Buton diperkirakan berdiri pada abad empat belas, dua abad kemudian berubah menjadi kesultanan. Kompleks keraton dikelilingi oleh benteng sepanjang dua ribu tujuh ratus empat puluh meter. Benteng ini dibangun dalam kurun waktu lima puluh tahun, melampaui tiga masa sultan yang berbeda.
Benteng berbentuk huruf 'dal' dalam aksara Arab ini, disusun dari batu kapur dan pasir. Benteng ini dilengkapi dua belas pintu masuk dan enam belas kubu pertahanan. Banyaknya meriam yang ditempatkan di tiap sisi benteng, menunjukkan masa Kesultanan Buton tidaklah mudah. Ada musuh, ada tamu asing, dan juga ada kerajaan tetangga, yang setiap saat datang sebagai lawan.
Disisi tebing yang sekaligus pembatas benteng bagian belakang, terdapat sebuah ceruk. Letaknya tepat di bawah tanah keraton. Gua ini menjadi tempat persembunyian Arupalaka, Raja Bone, saat melarikan diri dari kejaran tentara Sultan Hasanudin dari Kerajaan Gowa. Berkat sumpah Sultan Buton yang menyatakan Arupalaka tidak berada di atas tanah Buton, maka selamatlah Raja Bone itu. Konon Arupalaka masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan petinggi Kesultanan Buton.
Perubahan sistem kerajaan menjadi Kesultanan Buton, tidak lepas dari nama besar Sultan Murhum. Dialah yang menorehkan sejarah di atas tanah Buton. Raja terakhir dari enam raja, sekaligus sultan pertama dari tiga puluh delapan sultan. Ia memerintah dari tahun 1538 hingga 1584, dengan gelar Murhum Kaimuddin Khalifatul Hamis. Makamnya hingga saat ini masih terawat dengan baik di dalam kompleks keraton. Orang Buton tidak melupakannya. Nama sang sultan diabadikan menjadi nama pelabuhan laut, udara dan nama jalan.
Dalam komplek keraton, kediaman sultan tampak jauh lebih sederhana dibanding dengan istana raja-raja di tanah lain. Rumah panggung yang pernah didiami sejumlah sultan dari era yang berbeda, masih tersisa hingga kini. Rumah-rumah itu disebut kamali atau malige. Didalamnya, berbagai benda bersejarah juga masih disimpan, seperti bendera kerajaan yang pernah berkibar megah ratusan tahun lalu.
Kesederhanaan ini seperti cermin dari iklim demokrasi yang telah tercipta di Kesultanan Buton, jauh sebelum Indonesia lahir. Meski ada tiga golongan yang berbeda tugas, Sultan Buton tidak selalu diangkat dari keturunan sebelumnya, melainkan tergantung pada rapat anggota dewan legislatif yang berada di tangan golongan Walaka. Beberapa sultan konon dicopot dan dihukum karena di nilai melakukan pelanggaran.
Nuansa Islami amat lekat dengan Kesultanan Buton. Ddalam setiap pengangkatan sultan baru, ada sejumlah ritual yang telah menjadi tradisi. Ada sebuah batu berbentuk tonggak tempat menyimpan air, yang akan dipakai mandi sang calon sultan, sebelum diambil sumpahnya di Masjid Agung dalam kompleks keraton. Sehabis diambil sumpahnya, sang sultan baru dibawa ke batu pengangkatan. Diatas batu yang menyerupai alat kelamin perempuan ini, sang sultan di upacarai seolah-olah baru terlahir kembali. Bentuk batu ini mengingatkan pada lingga yoni, dalam konsep ajaran Hindu.
Masjid Agung keraton. Bangunan segi empat berbentuk tumpeng ini, didirikan pada awal abad delapan belas, pada masa pemerintahan Sultan Sakiuddin Durul Alam. Meski menjadi bagian dari kompleks keraton dalam Kesultanan Buton, wujud bangunan ini tetap terlihat sederhana. Namun sebaliknya, setiap komponen bangunan masjid ini penuh dengan simbol yang kaya akan makna.
Pengaruh Islam masuk ke Buton secara resmi pada tahun 948 hijriah, dibawa oleh Syeikh Abdul Wahid bin Sulaiman. Syeikh ini berasal dari Semenanjung Tanah Melayu. Namun baru dua abad kemudian Masjid Agung keraton dibangun. Untuk mendirikan masjid ini konon menghabiskan tiga ratus tiga belas potongan kayu, yang sama jumlahnya dengan potongan tulang-tulang tubuh manusia.
Dilengkapi dengan dua belas pintu, masjid ini mampu menampung hingga lima ratus orang jemaah. Jumlah pintu merupakan simbol jumlah lubang dalam tubuh manusia.
Pengaruh demokrasi dalam sistem kesultanan, juga berlaku pada anggota pengurus Masjid Agung, yang berjumlah lima puluh enam orang. Namanya Sarakidina. Mereka datang dari keturunan bangsawan maupun rakyat jelata. Tugas mereka terdiri dari satu orang lakina agama, satu orang imam, empat orang khatib, sepuluh orang moji dan empat puluh orang anggotanya.
Di era Indonesia modern, pengurus masjid tidak diperbolehkan berpolitik, karena dapat mengganggu indepedensi dewan masjid. Mereka juga setiap saat bisa dicabut wewenang dan jabatannya, ketika membuat kesalahan. Mereka sama sekali tidak boleh melakukan kesalahan prosedur, dalam melaksanakan tugasnya. Sebagai penganut kesetaraan, proses penggantian salah satu pengurus masjid, dilakukan melalui musyawarah bersama.
Hari Jumat adalah saat tersibuk bagi para anggota dewan masjid. Pada hari itu, bedug akan dipukul sebanyak lima kali, sejak pukul enam pagi, hingga pukul sebelas, yakni menjelang Shalat Jumat. Petugas pemukul bedug atau tungguna ganda, tidak boleh melebihi atau mengurangi jumlah pukulan, dan irama yang telah ditetapkan. Pakaian mereka merupakan kain khas Buton. Berbeda dengan lakina agama dan petugas lain yang memakai pakaian berwarna putih. Beban mental yang ditanggung semua anggota pengurus masjid cukup berat.

Ada banyak kebiasaan yang menjadi hal istimewa dari masjid ini. Menjelang shalat, para pengurus masjid datang dan menyandarkan tongkat jabatannya, berderet di tempat khusus. Tongkat tampaknya mewakili sesuatu yang penting. Tongkat khusus untuk pengkotbah, diikat sejajar tiang mimbar. Kesungguhan tercermin dari keseriusan imam yang duduk berkonsentrasi, sebelum memimpin shalat.

Jamaah mulai berdatangan. Imam melakukan shalat terlebih dulu, sebelum melangkahkan kaki di sepanjang kain putih, menuju ke depan mimbar. Ada empat orang yang bertugas mengumandangkan adzan. Kesan sakral tampak kuat dalam ritual sebelum shalat di mulai.
Ritual sebelum shalat di mulai memang terlihat rumit. Namun semua yang dilakukan merupakan tradisi turun temurun, yang penuh dengan makna simbolis. Makna yang di coba untuk dipertahankan demi nilai-nilai luhur bagi orang Buton.
Keberadaan para pengurus masjid ini begitu penting bagi masyarakat di lingkungan keraton. Ada orang yang khusus bertugas untuk mengurus jenasah dan upacara kematian. Tugas lakina agama dan imamu jauh lebih berat, karena setiap hari harus berzikir dan mendoakan keselamatan, serta kesejahteraan rakyat Buton.
Petugas juga wajib mendaraskan zikir setiap hari, yang digilir setiap satu minggu. Uniknya, jika banyak bencana dan wabah yang menimpa, masyarakat mempertanyakan upaya para pengurus masjid dalam mendoakan keselamatan mereka. Beban kepercayaan itu begitu besar. terkadang sulit untuk dicerna.
Sayangnya denyut nadi kehidupan dan budaya masyarakat Buton yang begitu elok, seperti terisolasi dari pengetahuan nasional. Ceritanya hanya bergaung lewat artikel-artikel sederhana dalam koran. Padahal, dengan sedikit polesan tangan terampil, Pulau Buton bisa menjadi surga wisata.(Idh)
Video Streaming

Bookmark and Share


Showing 1 to 10 of 16 commentsPage: 1 2
26-Nov-2010 18:26:51 WIB by Sarah
Wah.wah .
ituu kota saya .
Oh iyaa sekedar info saja di kota saya seiring kedatangan tamu manca negera trutama korea dan Jpang . D beberapa sekolahpun di ajarkan bahasa korea dengan guru yang brasal dari jepang langsung . Salah satu bahasa daerah dari kotaku juga memiliki kesamaan dgn bahasa korea .
hehe . maap yah kalo promosi .
3-Nov-2010 19:46:01 WIB by firman
@harman al idrus:betul kah semuah yang kamu tulis itu????
so dengan mmbaca komen kmu aku jdi makin penasaran dengan sejarah buton...
2-Oct-2010 13:57:21 WIB by nurul
dan apa bila kita mengetahui begaimana sejarah buton sebenarnya makan kita akan terperangah karena banyaknya sejarah yang ada di buton dari kerajaan menjadi kesultana,.kisah sultan murhum mengalah kan labolontio dan benteng terbesar di dunia yang berada di pusat kota bau-bau
29-Aug-2010 21:49:28 WIB by alan wilardy
ada ga sejarah buton saduran dari kitab tambaga? kemana larinya itu?????? yang pengen tau kok malah di sembunyikan!!!!!!!!!!!!!
19-Aug-2010 21:34:03 WIB by afiudin H La ira
semasa pemerintahan kerajaan buton,sebutan ut nama indonesia belum ada dan dari sabang sampai merauke belum terbentuk, jadi hukum yg di pakai di kerajaan buton adalah hukum islam. untuk itu pada saat datangnya bangsa belanda ke buton, belanda tidak memperlakukan buton sebagai musuh,, otomatis kerajaan buton pun memperlakukan belanda juga dengan baik. karna dalam ajaran islam memerintahkan, agar slalu baik kepada setiap orang, walaupun kita tidak mengenaln dia siapa, dan dari mana asalnya.
1-Aug-2010 08:55:30 WIB by safril
CERITA DARI HUBUNGAN KERAJAAN BONE DAN KESULTAN BUTON, DI BIDANG POLITIK, EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA,
20-Jun-2010 16:00:51 WIB by Harman Al Idrus
Sudaraku,,,jgn heran bila sejarah Buton tdk tercatat dlm sejarah Nasional,,,,karna memang Buton tidak ikut dlm pertempuran melawan penjajah belanda, justeru sebaliknya,,,Salah satu Sultan Buton yg tdk perlu saya sebutkan namanya disini,,,bekerjasama dengan belanda dan memberikan tempat yg nyaman bagi belanda utk mendirikan markas,,, banyak dari kita yg salah kaprah mengenai adanya meriam di keraton,,,,untuk diketahui itu bukan hasil dari berperang tapi hasil dari pemeberian dari belanda kepada Salah satu Sultan Buton,,,,sebagai imbalan atas kerjasama tersebut, belanda menghadiahkan dua orang anak Sultan tersebut utk sekolah di belanda,,,bila namanya saya sebutkan disini tentu anda semua tdk akan percaya,,namun jika anda sungguh ingin tahu,,silahkan datang ke tanah buton dan bertanyalah siapa dua orang anak sultan yg sekolah di belanda anda pasti akan di beritahu walaupun mereka enggan berkomentar mengapa mereka bisa sekolah di tanah penjajah,,,,,
6-Jun-2010 13:01:01 WIB by wa sari
Untuk memperjuangkan buton menjadi daerah sejarah berbudaya berawal dari menyelaraskan sejarah dari tiap daerah di kabupaten buton/ bau2 karena hampir setiap daerah di buton mempunyai sejarah masing2 yg tdk kalah serunya....di ibaratkan bakat pemain bola banyak ada di daerah tapi tdk pernah di promosikan & JANGAN LUPA SEJARAH MEMERLUKAN BUKTI BUKAN HANYA DONGENG TUK ITU CARILAH BUKTI SEJARAH
10-Apr-2010 10:42:43 WIB by Miayano Wabula
Akibat sejarah Buton tdk masuk dlm sejarah Indonesia, menybabkan banyak org Indonesia sebagian (Indonesia bagian barat)hampir tidak mengenal Buton tiu sendiri, padahal Buton adlh wilayah yang kaya akan peradaban, sehingga suatu wkt sejarah Buton akan masuk dlm Sejarah Peradaban Dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar