Selasa, 29 Maret 2011

Menguak Sejarah Asal-Usul Si Batara


Menguak Sejarah Asal-Usul Si Batara

Oleh : Alan wilardy (www.alanwilardy.com)
Di kerajaan Buton nama Si Batara sangat melekat sekali dalam mengukir sejarah kerajaan Buton. Si Batara adalah suami dari Raja Wa Kaa Kaa. Sedangkan Raja Wa Kaa Kaa adalah seorang raja wanita yang konon keturunan dari China yang pernah memerintah sebagai raja pertama Buton pada tahun 1332. Disebutkan pula Si Batara adalah putra bangasawan Majapahit yang saat itu berada di Buton.
Saya melakukan penelitian ini dengan mengunakan dan membaca beberapa literatur online yang ada di internet dengan bantuan Google.
Siapakah sebenarnya Si Batara?
Awalnya sangat sulit menemukan literatur tentang kata kunci “Si Batara” atau “Sibatara” dengan menggunakan mesin pencari Google. Karena hanya sedikit informasi yang didapatkan dan informasi terebut hanya itu-itu saja. Sampai pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa nama Si Batara itu adalah hanya pengucapan dialek untuk kata “Sri Bathara”. Nah disini mulai sedikit ada titik cerah tentang Sibatara. Jadi sebenarnya nama Sibatara itu adalah pengucapan dialek orang Buton saja untuk menyebut Sri Bathara.
Disebutkan pula dalam sejarah Buton bahwa Sibatara adalah putra bangsawan Majapahit. Saya mulai juga membaca-baca beberapa literatur tentang sejarah kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya sebagai keturunan dari Kerajaan Singasari yang telah hancur. Raden Wijaya dilantik menjadi Raja Majapahit yang pertama pada tanggal 12 November 1293. Pada saat itu Raden Wijaya bergelar Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana. Raden Wijaya menikah dengan Dara Petak. Dara Petak adalah seorang putri dari kerajaan Kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Sebenarnya istri Raden Wijaya ini masih mempunyai tiga istri yang lain, tetapi Dara Petak ini dijadikan istri yang dituakan daripada istri-istri yang lain dengan sebutan gelar Stri Tinuheng Pura (istri yang dituakan di istana). Selain itu Dara Petak mempunyai gelar Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari.
Dari pernikahan Raden Wijaya dengan Dara Petak ini kemudian lahir seorang putra yang bernama Jayanegara. Setelah Raden Wijaya mangkat/wafat pada tahun 1309. Maka kelanjutan tahta Majapahit jatuh ke tangan Jayanegara. Saat menjadi Raja Majapahit yang kedua, Jayanegara mempunyai gelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. Pada masa pemerintahan Jayanegara ini, kerajaan Majapahit banyak mengalami pemberontakan dari berbagai wilayah. Pemberontakan itu dilakukan karena rasa tidak puas dengan pengangkatan Jayanegara menjadi Raja Majapahit, karena Jayanegara dianggap bukan “asli putra daerah” dikarenakan ibu Jayanegara adalah orang Sumatera. Jadi pada masa pemerintahan Jayanegara ini hanya dipenuhi gejolak pemberontakan.
Pemberontakan pada masa Jayanegara antara lain:
- pemberontakan Ranggalawe
- pemberontakan Lembu Sora
- pemberontakan Juru Demung (1313)
- pemberontakan Gajah Biru (1314)
- pemberontakan Mandana dan Pawagal (1316)
- pemberontakan Nambi (1316)
- pemberontakan Ra Semi (1316)
- pemberontakan Ra Kuti (1319)
Dari sekian banyak pemberontakan diatas, pemberontakan yang paling besar adalah pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319 yang berhasil menguasai istana kotaraja (ibukota) Majapahit berhasil direbut kaum pemberontak. Sehingga memaksa Jayanegara bersama keluarganya mengungsi meninggalkan istana. Dalam pengungsiannya tersebut Jayanegara dikawal oleh pasukan Bhayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Karena waktu itu Gajah Mada masih menjabat sebagai pimpinan pasukan Bhayangkari. Namum tidak beberapa lama ibukota Majapahit berhasil direbut kembali oleh pasukan Bhayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Serta pemberontak Ra Kuti berhasil ditaklukkan dan kerajaan Majapahit berhasil direbut kembali oleh Jayanegara.
Setelah Jayanegara kembali duduk sebagai raja Majapahit dan kembali memegang kekuasaan, hubungan Majapahit dengan China (saat itu dikuasai oleh Dinasti Yuan / Mongol) sudah mulai membaik. Hal ini dibuktikan dengan dikirimnya Adiytawarman untuk menjadi duta Majapahit untuk China pada tahun 1325.
Meskipun Jayanegara telah memegang kembali kepemimpinan Majapahit setelah pemberontakan Ra Kuti, tetapi dalam kenyataannya masih banyak sisa-sisa kelompok masyarakat yang belum puas dan sakit hati pada Jayanegara. Hingga akhirnya Jayanegara jatuh sakit dan didatangkan seorang tabib bernama Ra Tanca. Sebenarnnya Ra Tanca juga masih mempunyai dendam pada Jayanegara sehingga dia berpura-pura akan mengobati Jayanegara. Saat prosesi pengobatan Jayanegara tersebut diawasi oleh Gajah Mada. Karena saat itu Gajah Mada menjadi pengawal kesayangan Jayanegara. Tapi dengan akal liciknya Ra Tanca berhasil membunuh Jayanegara saat berpura-pura mengobati Jayanegara. Mengetahui rajanya terbunuh, langsung saja Gajah Mada segera menghukum mati Ra Tanca saat itu juga. Dari kejadian pembunuhan Jayanegara ini istana Majapahit menjadi heboh. Keadaan kerajaan Majapahit saat itu menjadi guncang. Bisa kita bayangkan juga ada pembuhuhan raja maka keadaan pemberintahan dan kerajaan menjadi guncang.
Banyak disebutkan di literatur bahwa Jayanegara tidak memiliki putra mahkota untuk dijadikan penggantinya menjadi Raja Mahapahit. Karena itu ditunjuklah Dyah Gitarja yaitu adik ipar Jayanegara untuk menjadi raja Majapahit berikutnya. Dyah Gitarja ini kemudian bergelar Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani dan mulai memerintah Majapahit pada tahun 1329.
Kalau kita melihat literatur bahwa Jayanegara saat terbunuh tersebut belum sempat menggangkat putra mahkota yang nantinya akan menggantikannya. Tapi hal ini bukan berarti Jayanegara sampai akhir hayatnya belum memiliki istri. Karena saat terbunuh tersebut usia Jayanegara adalah 34 tahun. Jika kita berpikir secara logika pada saat usia tersebut pastilah Jayanegara telah mempunyai istri (selir), apalagi mengingat posisi Jayanegara adalah sebagai raja Majapahit. Sudah pasti Jayanegara memiliki istri tetapi belum sempat ditetapkan sebagai permaisuri atau istri utama, yang nantinya keturunannya bernah menjadi putra mahkota yang akan berhak menggantikan Jayanegara.
Mulai disinilah kita membandingkan beberapa literatur Buton ditemukan bahwa Sibatara atau Sri Bathara adalah putra dari Jayanegara. Bisa diambil kesimpulan bahwa pada saat Jayanegara terbunuh, istri (selir) Jayanegara yang merasa terancam kedudukannya di istana Majapahit. Salah seorang selir tersebut saat terjadi gejolak di kerajaan Majapahit tersebut dia melarikan diri. Istri Jayanegara (selir) itulah ibu dari Sibatara atau Sri Bathara. Kemungkinan besar saat terjadi keguncangan pemerintahan Majapahit itu dia melarikan diri sampai di pulau Buton dengan membawa putranya yang bernama Sri Bathara.
Sesampainya di pulau Buton inilah nantinya Sri Bathara menikah dengan Wa Kaa Kaa. Wa Kaa Kaa adalah raja pertama kerajaan Buton yang memerintah mulai tahun 1332. Dari pernikahan antara Raja Wa Kaa Kaa dengan Sri Bathara ini kemudian lahir seorang putri bernama Bulawambona. Bulawambona nantinya menggantikan Wa Kaa Kaa menjadi penerus kerajaan Buton.
  
5 Votes
Be the first to like this post.
9 Komentar
  1. Siapa SI BATARA, WA KAA-KAA dan WA TAMPONE ?
    Dikutip dari Asal Usul Pulau Buton dan Muna (Salinan Asli Kitab Tembaga)
    (Menanggapi tulisan Anon Kuncoro Widigdo, ST (www.palagimata.com) pada “Menguak Sejarah Asal-Usul Si Batara” http://wolio.wordpress.com/2009/01/27/menguak-sejarah-asal-usul-si-batara).
    Telah kita ketahui bahwa “Visi Misi” Majapahit dan Kerajaan lain yang saling berebut pengaruh kekuasaan Kerajaan di Zaman itu kurang lebih memperluas Wilayah Kekuasaan Kerajaan dalam mempersatukan Nusantara setelah Kerajaan Singosari-Mataram Runtuh, Raden Wijaya memaklumatkan kepada Putra-Putrinya untuk menjajaki / membentuk kerajaan-kerajaan Penunjang di Nusantara, tetapi beberapa kerajaan yang terlepas dari Runtuhan Mataram-Singosari telah Berdiri.
    Dua Armada Kerajaan Majapahit yang di Pimpin oleh Raden Jutubun dan Raden Sri Bhatara/Putri Lassem sandar di perairan Pulau Bathniy / Butuuni / Buton. Mereka disambut meriah sebagai Putra-Putri Bangsawan sebuah Kerajaan Besar (Berdampak pada Adat Istiadat Pernikahan di Negeri Ini), selanjutnya Raden Jutubun Meninggalkan Buton dan mengembangkan kerajaannya di Muna, Todanga, Selayar, dan Beberapa Kerajaan Pendukung Buton lainnya (Wallahu ‘Alam Bissawab) setelah mendampingi pernikahan adiknya Raden Sri Bhatara dengan Sitty Quraisy Fakhriy Dzaatima anak dari Pasangan Abdullah Badiy Uz-Zamani Fuaq Quaraisy (Dulu Damani) Cucu Syaikh Abdul Syukur Sepupu Rasulullah dan Rabhiyatum Cucu Rasulullah SAW, yang umum dikenal dengan nama Wa Kaa-Kaa.
    Pernikahan ini melahirkan tujuh orang Putra-Putri dimana Putri pertama “Bula Wambona” diangkat sebagai Raja Buton ke-Dua dan menikah dengan La Baaluwu (Putra Luwuk) Putra Raja Luwuk Sawerigading.
    Beliau juga (La Baaluwu) dalam masa pengembangan kerajaan, namun karena tidak ada laporan balik ke Luwuk, Saweri Gading akhirnya mengutus Hulu Balang untuk mengembalikan La Baaluwu ke Luwuk, karena Beliau (La Baaluwu) telah menikah dan memimpin di Buton, maka Sri Bhatara / Wa Kaa-Kaa, keenam saudara Bula Wambona dan para pengikut mengatarkan Putri Lassem ke Luwuk sebagai Pengganti La Baaluwu dan menikahkannya dengan Sawerigading. Tempat persinggahan pertama di pesisir pasir (Bone) Pantai dimana Putri Lassem membentuk Kerajaan baru yang konon katanya adalah Ibukota kerajaan tersebut dengan mengabadikan nama Putri Lassem / Wa Tampone sebagai Ibu Kota Kerajaannya (Kota Raja), selanjutnya Kelompok Raden Sri Bhatara / Wa Kaa-Kaa dan enam Putra Putrinya melanjutkan perjalanan kembali ketanah jawa.
    Batara Guru, Raja Ke-Tiga Buton adalah Putra Tunggal Bula Wambona dan La Baaluwu, saat Beliau menjabat sempat berkunjung ke Majapahit dan memperkenalkan diri sebagai Cucu Raden Sri Bhatara darah daging Majapahit, namun beliau di Tolak, sehingga beliau mewujudkan kegaiban dengan munculnya tanah tinggi / Sitinggi / Gunu Karama (Cari Cerita Selengkapnya).
    Cerita di atas menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit tidak lagi di Pimpin “murni” oleh Cucu Raden Sri Wijaya, Raden Jaya Negara tidak mempunyai anak, Raden Jutubun / Bau Besi / tidak kembali ke Jawa, Raden Sri Bhatara tidak kembali meminta kedudukan di Majapahit, beliau dan keluarga berdiam di gunung Lawu, Putri Lassem / Wa Tampone / Lailan Mangrain membentuk kerjaan Bone (Inilah yang mengaitkan kerajaan Bone dan Luwuk).
    Catatan Khusus : Sri Bhatara dan Wa Kaa-Kaa mundur dari kehidupan duniawi dan menjalani pertapaan Sufi. Raden Sri Bhatara mendiami Gunung Lawu, sementara Wa Ode Zam-Zaafiah / Sitty Quraisy Fakhriy Dzaatima / Wa Kaa-Kaa melanjutkan perjalanan Sufi ke Gunung Kidul dan bersemayam menjadi penguasa Pantai Selatan Pulau Jawa. Dari sini, Siapakah Nyi Roro Kidul…? Wallaahu ‘Alam…
    Pada pengamatan kami saat “jalan-jalan” ke tanah Jawa dan berbincang dengan “orang-orang Tua” di sana, Roro Kidul di pandang dalam dua Fersi Besar. Pertama, ia di anggap sebagai Siluman dari bangsa jin (menurut kaum Realistis). Ke-dua, dia merupakan tokoh Sufi dari Putri Seorang Raja / Seorang Putri Raja / Seorang Raja Putri yang mengajarkan Ilmu Tasawwuf yang Hakiki, utamanya keterkaitan antara amal perbuatan dan Rumah Tangga (menurut kaum Mistis dan Sufiah), Wallaahu ‘Alam…
    Pada dasarnya Wa Kaa-Kaa tidak berasal dari China, hanya saja dalam perjalanan beliau dari Saudi Arabia Kenegeri “titipan Nabi”, beliau sempat menyambangi Kekaisaran Dinasti Khan (Qubilay Khan – Jengis Khan) yang mengembangkan Islam dengan “Pedang dan Kitab Suci”, dimana kita ketahui bersama bahwa Islam merupakaan Agama orang-orang Istana pada zaman Dinasti Khan.
    Oleh Dung Kung Cangiang / Dung Kung Sang Hiang (Raja Cina Islam dari Hoe-Hoe daerah Tar-Tar) dan Kawannya Sang Ria Rana yang sedang berburu di Hutan Sorawolio / Pendamping Wolio (yang oleh generasi kini menggelar Perkemahan Putri Tingkat Nasional yang Pertama di tempat ditemukannya Wanita Raja Pertama Buton) memberi nama Putri tersebut dengan sebutan Khwa Khan-Khan atau Wa Kaa-Kaa karena Beliau saat ditanyai hanya mampu menjawab “Kaaka” (Kakak Perempuan / Wanita yang di Tua kan) sebagai pandangan Beliau (Wa Kaa-Kaa) terhadap pulau yang di jumpainya sebagai pulau Perempuan (Indung Telur di kunjungi oleh Ribuan Sel Sperma berkualitas / Kerajaan-Kerajaan yang Berjaya masa itu, yang merupakan pulau Perut / Kandungan dan terdapat pusat Bumi).
    Saat itu sekitar Tahun 1332, dimana Wa Kaa-Kaa di angkat sebagai Raja Buton Pertama, Beliau merupakan seorang Putri yang telah Mapan / Dewasa baik umur maupun jiwa kepemimpinannya. Menilik Raden Sobotoro / Si Batara / Sri Bhatara sebagai suami Wa Kaa-Kaa, tentulah beliau juga telah dewasa.
    Kalau menyimpulkan bahwa Beliau (Si Batara) adalah anak dari Jaya Negara, sangatlah tidak mungkin, bukankah Jaya Negara Wafat di Usia 34 Tahun?, yang sebelum Beliau mangkat sempat mengangkat Dyah Gitarja sebagai Pelanjut Takhta (1329) karena beliau tidak dikabarkan dalam sejarah sempat menikah dan mempunyai anak, andaikan Sri Bhatara anak dari Jaya Negara, tentulah Sri Bhatara saat itu Berumur antar 5 s/d 10 Tahun (antara Kepemimpinan Dyah Gitarja Tahun 1329 –dengan Wa Kaa-Kaa Tahun 1332) menimbang usia 34 Jaya Negara dimana seandainya beliau sempat menikah dan mempunyai anak tentulah beliau menikah antara usia 20 s/d 30 tahun.
    Mari lihat Rumah Tangga Raden Wijaya, dimana Beliau mempunyai empat Istri, yang dari masing-masing melahirkan :
    1. Raden Jaya Negara
    2. Raden Jutubun / Bau Besi / Datuk Jutubun
    3. Raden Sri Bhatara / Si Batara / Sobotoro
    4. Putri Lassem / Watampone / Lailan Mangrani
    Kita ketahui bersama bahwa Raden Wijaya menjabat sejak 12-11-1293 dan wafat 1309, artinya beliau menjabat sekitar 15 s/d 16 tahun, simpulkanlah bahwa beliau wafat di Usia 50 s/d 100 Tahun, dan memiliki anak saat usia antara 25 s/d 40 tahun, maka tepatlah kiranya saat Sri Bhatara tiba di Buton beliau telah dewasa dan mapan dalam berumah tangga / menikah dengan Wa Kaa-Kaa.
    Demikian sedikit pandangan miring dari saya : La Ode Abdul Zulkarnain / Lakina Jini / Oputa Mosabuna Yi Kolema / Sangia Yi Kulambu / Yi Yarona Bota, semoga dapat berfanfaat dan menambah khazanah kita semua, Wassalaammmmm……
    Harap di muat sebagai salah satu literatur…
    6
    1
      
    Rate This
  2. saya pernah baca di salah satu artikel, wa kaa kaa ternyata telah ada di atas kapal utusan kubalai khan yang tidak lagi kembali ke mongol untuk menginformasika ke kubalai khan bahwa singosari telah runtuh
    nah apabila wa kaa kaa adalah seorang dari keturunan arab, dan kedatangannya hingga ke buton melalui mongol…… apakah bisa di katakan wa kaa kaa juga termasuk salah satu/prajurit kubalai khan? karena pada saat itu, kapal yang dinaiki oleh wa kaa kaa, sedang melakukan ekspansi ke tanah jawa???
    mohon di terangkan……….
    1
    3
      
    Rate This
  3. itulah sejarah kita… mana yang benar… aku sendiri tambah bingung
    0
    0
      
    Rate This
  4. Sangat bAGUS. Tp. Sebenarx siapa i2 wa ka ka. .incy
    0
    0
      
    Rate This
  5. Pengelabuan sejarah yang dilakukan oleh Sdr. Anon Kuncoro Widigdo. yang menyebutkan Sibatara adalah keturunan kerjaan Majapahit, itu adalah kebohongan yang disengaja untuk mengesiskan pengaruh orang suku jawa di nusantara, dan tidak dijumpai sedikitpun bukti sejarah mengenai adanya pengaruh Kerjaaan Majapahit (Jawa) di bumi Sulawesi). jadi jangan tertipu dengan sejarah yang buat2 tampa dasar oleh orang2 Jawa.
    Yang betul bahwa Sibatara adalah keturunan dari kerjaaan Luwu Sulawesi Selatan, dan itu bisa dibuktikan dengan adanya hubngan historis dan tali persaudaraan antara kerajaan Bugis dengan Buton yang masih terjalin sampai saat ini.
    2
    0
      
    Rate This
  6. Terima kasih atas tulisan ini sangat membantu untuk menelusuri jejak nenek moyangku. Saya sepedampat dengan @Amappa tentang tulisan Sdr Anon Kuncoro, yang mencoba menghubungkan sibatara dengan keturunan kerajaan mojopahit, itu sulit sekali untuk dibuktikan….
    1
    0
      
    Rate This
  7. Historikal Buton memang tdk di legitmasi oleh prasasti yg piagamis, namun para tetua2 terdahulu telah mempertimbang hal yg bakal menjadi pertentangan di kemudian hari, mengenai tata nama Tokoh masa lalu, umumnya di kaitkan dgn daerah asal, demikian pula dari pola berpakaian nya, para Tokoh pendiri Kerajaan Butuni juga membawa khas daerah asalnya, baca ulasan saya berikut :
    Kerajaan Luwu Saweri Gading adalah salah satu kerajaan tertua di Nusantara, kerajaan ini pula yg menjadi momok hingga berdiri Majapahit setelah runtuhnya Singosari, artinya, Luwu Saweri Gading lebih tua dari Maja Pahit, Kalau dilihat dari pertautan Lailan Mangrain atau Watampone yang datang bersama Si Batara dan menikah dengan Saweri Gading dan Melahirkan Labaluwu, berarti Si Batara Lebih Tua dari Raden Wjaya, mari menganilis arti Si Batara dan Tokoh2 lainnya dalam tata nama Butuniah berdasarkan Asal daerah dan pakaian khasnya.
    -Si Malui (Si Melayu) / Si Tamanajo (Tamtamana Co / Si Semenanjung) : Yang datang dengan pakaian khas Melayu Pariaman.
    -Simpanjonga (Si Penghujung) / Si Jawangkati (..) datang dengan pakaian khas Melayu Passai nya.
    -Si Batara / Subotoro / Sumotoro (Si Sumatra), Putri Lassem / Lailan Mangrani / Wa Tampone, Jutubun / Bau Besi / Baju Besi, Juga datang dengan Khas Sumatranya.
    Kalau kita telisik, memang tdk ada intervensi Ke-Jawaan yang masuk sebelum Batara Guru, Kelengkapan Upacara adat yang bernuansa ke-jawaan ada setelah Batara Guru kembali dari Maja Pahit. Lihat saja, pakaian Petinggi kerajaan umumnya khas Arabik, Melayuis dan Sumatrais, ke-Jawaan muncul pada penyempurnaan2 setelahnya.
    3
    0
      
    Rate This
  8. Justru sebaliknya, Kerajaan Luwu lah yang berpengaruh di Kerajaan Majapahit. Luwu Produsen besi, Majapahit konsumennya. Satu dari sekian banyak pembuat senjata di Majapahit yg terkenal bernama Mpu Luwu. Dan yang paling heboh, dalam sebuah lontara disebutkan: Anakaji putra Simpurusiang mempersunting putri Majapahit yang bergelar We Tappacina.
    Mempersunting seorang putri kerajaan di masa Feodal jaman dahulu kala, dapat bermakna menaklukkan kerajaan ybs (yg dipersunting putrinya). Nah… Lho!!
    0
    0
      
    Rate This
  9. Batara kalau di Luwu, berasal dari kata Bitta Ra. Bitta artinya tanah atau tempat. Sementara Ra itu Dewa Matahari. Tapi simpelnya, orang terjemahkan Bittara sebagai tempat yang tinggi.
    Batara Guru memang berasal dari Highland (Dataran tinggi) sesuai di ceriterakan dalam Epos La Galigo.
    0
    0
      
    Rate This

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *
*


  • Perlukah memiliki kembali seorang Sultan Buton?

    Komunitas Blogger Bau-Bau

    Hamzah
    Yusran Darmawan
    Sufi Hisanuddin
    Asma Azis
    Gunawan Sugiyanto
    Majalah Semerbak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar